"Takbiran memang perintah agama, terutama dalam rangka bersyukur karena telah melewati Ramadan," kata Din di Kantor PP Muhammdiyah, Jl Cikini Raya, Jakarta, Selasa (6/8/2013).
Menurutnya, takbiran yang dirayakan dengan cara konvoi di jalanan lebih rentan menimbulkan masalah. Apalagi, sampai meledakkan petasan dan melanggar rambu lalu-lintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di mengimbau agar umat Islam lebih mementingkan konten dan isi dari makna malam takbiran. "Yang paling penting dalam makna takbiran adalah isinya, kita harus bersyukur," pungkasnya.
Sikap Muhammadiyah ini senada dengan imbauan Gubernur DKI Jakarta Jokowi tapi berbeda dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam seruannya, MUI mengharapkan umat agar menggaungkan takbir sampai ke jalan-jalan.
"Takbir Keliling adalah bagian dari syiar yang dianjurkan," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam dalam keterangannya, Selasa (6/8/2013).
"Bahwa larangan takbir keliling tidak relevan, ahistoris, dan tidak memahami utuh masalah sosial keagamaan. Bisa jadi lalai, perlu diingatkan. Semoga tidak punya agenda lain," tambahnya.
(rvk/try)











































