Bush & Kerry Saling Serang Soal Bahan Peledak yang Hilang

Bush & Kerry Saling Serang Soal Bahan Peledak yang Hilang

- detikNews
Kamis, 28 Okt 2004 15:14 WIB
Jakarta - Presiden George W Bush dan Senator John Kerry saling serang berkaitan dengan ratusan ton bahan peledak yang hilang di Irak. Bush mengecam rivalnya itu yang dituding telah terburu-buru membuat penilaian tanpa fakta."Kandidat politikus yang langsung membuat kesimpulan tanpa mengetahui fakta-faktanya bukanlah orang yang kalian inginkan sebagai panglima tertinggi," cetus Bush kepada para pendukungnya saat berkampanye di Pennsylvania.Menurut Bush, bahan peledak tersebut mungkin saja telah hilang dari fasilitas penyimpanan Al Qaqaa sebelum pasukan AS tiba di lokasi tersebut. Bush menuduh Kerry berusaha meraih keuntungan politis dengan isu tersebut. "Militer saat ini tengah menyelidiki sejumlah skenario yang mungkin bahwa bahan peledak itu mungkin telah dipindahkan sebelum pasukan kami tiba di lokasi," tukas Bush seraya menuding Kerry telah menjelek-jelekkan orang lain tanpa mengetahui faktanya.Kerry juga melancarkan kecaman terhadap Bush. Dalam pidatonya di Iowa, kandidat presiden Demokrat itu mengatakan bahwa bahan peledak yang hilang di Irak dan respons Bush merupakan contoh kelemahan presiden AS itu sebagai pemimpin.Menurut Kerry, Bush berupaya menyalahkan orang lain atas masalah bahan peledak itu. "Ini skandal yang membesar dan rakyat Amerika layak memperoleh penjelasan yang lengkap dan jujur tentang bagaimana itu terjadi dan apa yang akan dilakukan presiden ini mengenai hal itu," tegas Senator Massachusetts itu.Sebanyak 380 ton bahan peledak tingkat tinggi telah hilang dari bekas fasilitas senjata di Irak. Menurut Badan Tenaga Atom Internaional (IAEA), lokasi tersebut tidak pernah diamankan pasukan AS setelah invasi ke Irak pada Maret 2003 lalu. Pejabat-pejabat PBB mengkhawatirkan bahan peledak itu jatuh ke tangan para teroris.Dalam kampanyenya di Iowa, Kerry tidak menyalahkan pasukan AS atas kehilangan bahan peledak tersebut. "Pasukan telah melakukan tugas mereka. Panglima tertinggi yang gagal melakukan ini," tegas Kerry. (ita/)


Berita Terkait