Jawa Barat Selatan Rawan Jadi Persembunyian Azahari Cs

Jawa Barat Selatan Rawan Jadi Persembunyian Azahari Cs

- detikNews
Kamis, 28 Okt 2004 12:13 WIB
Bandung - Jajaran TNI berkoordinasi dengan intelijen dan kepolisian terus ikut memburu pelaku teror bom. Komplotan Dr Azahari dan Noor Din M Top yang disinyalir sempat berada di wilayah selatan Jabar terus diikuti. Bahkan hari Rabu (27/10/2004) malam, berdasarkan informasi yang diperoleh aparat keamanan sempat melakukan penggerebab di wilayah Ciumbuleuit Bandung. Sayang, informasinya tidak akurat. "Seperti itu yang dilakukan jajaran TNI di sini. Kami back up penuh upaya pencarian pelaku teror itu," tutur Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Iwan R Sulandjana kepada pers, di sela-sela kunjungan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ke Mako Sesko TNI Jl RE Martanegara Bandung, Kamis (28/10/2004).Setiap informasi sekecil apa pun yang masuk, menurut dia, akan selalu ditindaklanjuti. "Dalam beberapa hal, ada informasi yang benar tetapi ada keterbatasan ruang gerak kami," ujar Pangdam. Pangdam menuturkan, dalam beberapa hal jajarannya memang menjadi kurang lincah bergerak. Pasalnya, kewenangan untuk melakukan penangkapan dan penyelidikan tidak berada di pundaknya. "Tapi sesuai dengan UU TNI, bahwa pelaku teror itu bisa langsung ditangani oleh TNI, mudah-mudahan bisa memberikan ruang gerak yang cukup. Peraturan Pemerintah (PP) untuk pelaksanaannya masih ditunggu," tuturnya.Saat ini, untuk mengatasi kendala-kendala itu pihak keamanan selalu melibatkan jajaran kepolisian di lapangan. "Jadi kalau memang ada penangkapan, biar tidak disalahkan secara prosedur hukum sudah ada polisi yang juga di garis depan. Hanya saja, untuk beberapa hal diperlukan tambahan waktu untuk koordinasinya," katanya lagi.Menyinggung daerah-daerah yang dicurigai sempat menjadi tempat persembunyian komplotan itu, Pangdam menuturkan bahwa wilayah Jabar selatan dengan segala kekurangan infrastrukturnya justru menjadi tempat yang baik. "Saya tidak pernah menyatakan di wilayah itu menjadi sarang teroris. Yang saya katakan, di daerah yang serba kekurangan fasilitas itu menjadi tempat bersembunyi yang baik karena sulit dijangkau," tuturnya. Kecurigaan aparat pun, menurut dia, bukan omong kosong, karena memang ada indikasi-indikasinya. "Tidak perlu disebutkan bagaimana caranya. Yang jelas, kami selalu memburu pelaku-pelaku teror itu ke mana pun mereka pergi," tandasnya lagi.Dana US$ 1 Juta ke Tempat TerpencilPangdam secara khusus juga menyoroti perlunya koordinasi dan aturan hukum yang jelas, guna menangkal setiap rencana tindak teror. Misalnya, dalam hal UU Perbankan. Aparat keamanan dan kepolisian saat ini masih sulit untuk menelusuri aliran dana yang dikirimkan ke satu tempat terpencil, dari satu negara adikuasa bernilai sekitar 1 juta dollar AS. "Ini sebetulnya mengundang tanda tanya. Ada apa? Uang sebesar itu dikirimkan siapa, untuk apa, kepada siapa? Kami hanya tahu, ada aliran dana sebesar itu ke satu daerah terpencil di Jabar ini. Tapi karena aturan perbankan, kita tidak bisa telusuri siapa yang mengirimkannya," tuturnya.Padahal, sesuai dengan aturan dari BI sendiri setiap transaksi yang mencurigakan harus ditelusuri karena bisa saja terkait dengan money laundering, atau keperluan-keperluan lain. "Tidak jadi soal kalau untuk keperluan yang benar. Tapi, perlu ditelusuri setiap tindak dan kegiatan yang mencurigakan," kata Pangdam lagi. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads