Rudi, 38, sudah bisa bersyukur kalau sehari bisa mendapat upah sebesar Rp 100 ribu. Kuli panggul barang di Stasiun Pasar Senen ini mengaku hanya menggantungkan pendapatannya dari upah murni mengangkut barang milik penumpang ke dalam kereta api. Setiap mengangkut barang ke dalam kereta, ia bisa mendapat upah Rp 20 ribu–Rp 30 ribu.

Berbeda dengan pemasukan tahun lalu yang bisa nyambi jadi calo dadakan yang sehari bisa meraup Rp 300 ribu. “Susah, Mas sekarang. Enggak bisa main lagi. Ketat sistem online. Kita kalah juga sama calo,” katanya saat ditemui detikcom Rabu (31/7).
Pria asal Malang, Jawa Timur, ini mengaku kalau diminta mencarikan tiket paling mengandalkan informasi penambahan gerbong kereta dan pembatalan yang dilakukan penumpang. Biasanya, ia mendapat info ini dari petugas keamanan di stasiun dan juga rekan-rekannya sesama kuli panggul.
Maklum, ia tidak punya telepon seluler dan tidak mengeti internet. Kalaupun ada peluang mencarikan tiket, paling ia merekomendasikan atau bekerja sama dengan calo. Tapi, itu juga harus secara sembunyi dan diam-diam. “Kalau ketahuan gawat, Mas, bisa enggak kerja di sini lagi,” ujarnya.
Hal senada dikatakan salah seorang kuli panggul di Stasiun Jatinegara Anto, 35. Menurut dia, info pembatalan tiket dan penambahan gerbong juga sulit karena harus bersaing dengan kuli panggung dan petugas keamanan stasiun. Belum lagi calo yang menguasai seluk beluk soal pembatalan tiket.
Begitu pula dengan penambahan gerbong yang biasanya calon penumpang lebih aktif untuk mencari tahu. “Kasarnya itu cuma buat uang kopi bergadang doang. Kita kan capek nungguin semalaman buat cari info pembatalan karcis atau ada penambahan gerbong,” katanya.
Anto bercerita kalau ada calon penumpang mencari tiket dari pembatalan tiket biasanya ia meminta nomor ponselnya. Bila ada info, ia langsung mengontak calon penumpang tersebut. Tapi, biasanya satu calon penumpang itu sudah diincar calo. Sementara, petugas keamanan dan kuli panggul tidak berani menawari karena peraturan ketat di stasiun. Sedangkan, untuk penambahan gerbong kereta juga sulit karena hal ini tergantung dengan kebijakan PT Kereta Api Indonesia.
Kalau pun ada waktunya berselingan dan tidak setiap hari sehingga menyulitkan dan kadang membingungkan untuk berkomunikasi dengan calon penumpang. “Ya itu kan dari pusat, Mas. Kalau hari ini ada, besok enggak ada. Jadwalnya ditetapin dari sana. Gerbong enggak seberapa, tapi yang mau seabrek. Lha, kita bingung kan,” ujar pria asal Tegal, Jawa Tengah ini.
Adapun petugas keamanan di Stasiun Gambir, Aman, 41, mengaku “kering” sejak diberlakukan sistem online. Selain itu stasiun tempatnya bekerja lumayan ketat untuk pengawasan sistem jual beli tiket lewat calo. Ia mengaku sama sekali tidak berani mengajak calon penumpang mengobrol. Kecuali kalau pemudik yang bertanya terlebih dulu. “Ya, takut dicurigain. Ketat sekarang. Enggak kayak tahun lalu yang masih bisa nyambi dan bantuin temen. Andelin gaji dan THR sedikit lha sekarang,” katanya saat ditemui detikcom Rabu (31/7).
Aman juga mengaku untuk menambah pendapatan Lebaran tahun ini, ia mengontak beberapa temannya yang juga petugas keamanan di Stasiun Pasar Senen. Biasanya ia merekomendasi ke temannya kalau ada calon penumpang yang ingin tiket kelas bisnis dan ekonomi. Tapi, itu juga sulit karena petugas keamanan setiap stasiun punya keterbatasan gerak.
“Gambir kan eksekutif semua, Mas. Paling di Senen. Itu juga susahnya minta ampun Mas. Dapat satu-dua orang dalam lima hari itu yang jadi juga udah bagus. Ya, buat bensin motor kalau dapat Mas.”
(brn/brn)











































