Sejumlah saksi mengatakan, api mulai berkobar di sekitar pukul 19.30 WIB. Belum diketahui secara pasti asal api, namun beberapa orang menyebutkan bahwa kemungkinan api berasal dari hunian liar yang menempel di kios-kios buku tesebut.
Cuaca cerah dan angin kencang dan barang-barang mudah terbakar lainnya mempercepat rembetan api. Kios-kios buku yang berada di sebelah barat pintu gerbang belakang Taman Sriwedari segera dijamah api. Kios yang pertama dilalap habis si jago merah adalah toko buku 'Ilmu Tetap Abadi' yang berada tepat disamping barat pintu gerbang belakang Taman Sriwedari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
10 unit mobil pemadam kebakaran dari Pemkot Surakarta dan Pemkab Sukoharjo segera didatangkan. Petugas juga segera memutuskan aliran listrik dan menutup Jalan Kebangkitan Nasional, jalan belakang Taman Sriwedari. Sekitar pukul 21.00 api baru sepenuhnya bisa dipadamkan oleh petugasm, setelah beberapa kios terpaksa dibongkar paksa untuk memutus rembetan api semakin meluas.
"Total kios yang terbakar sebanyak 25 unit dan dipastikan tidak ada korban jiwa. Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namun informasi awal dari warga menyebutkan api berasal dari sebuah rumah di belakang kios yang dihuni Ibu Rajinem, yang berada persis menempel di belakang kios. Kami masih belum menemukan penghuni rumah itu untuk dimintai keterangan," ujar Kasatreskrim Polresta Surakarta, Kompol Rudi Hartono, di lokasi kejadian.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, yang langsung mendatangi lokasi kejadian mengaku tidak mengetahui keberadaan hunian liar di belakang deretan kios tersebut. Dia hanya memastikan kawasan tersebut tidak boleh dipakai untuk hunian.
"Pemkot tidak memiliki anggaran khusus untuk memperbaiki kios yang rusak. Namun kami memiliki dana tak terduga sebesar Rp 4 miliar. Yang jelas jangan sampai pusat buku murah ini tutup. Kawasan ini sudah puluhan tahun dikenal sebagai pusat perdagangan buku bekas dan baru, pusatnya ilmu pengetahuan. Kami akan memasang hidran di sekitar kawasan ini karena komoditas yang diperdagangkan adalah barang mudah terbakar," ujar Hadi Rudyatmo.
(mbr/rvk)










































