Saat memberikan sambutannya dalam acara buka puasa bersama, Hari mengatakan dari sekitar 460 napi yang ada di Lapas Sukamiskin, 300 diantaranya masuk kategori perkara korupsi. "Perkaranya korupsi meskipun rumahnya nyewa," ujar Hari.
Hari mengatakan, para narapidana yang kini berkumpul di Lapas Sukamiskin karena berbagai alasan. Ada yang karena berniat (korupsi-red) namun tak dapat, ada yang tidak niat (korupsi) namun dapat bagian, ada juga yang kesenggol akibat lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bercerita soal lapas yang dinamai Sukamiskin, Hari pun punya komentarnya sendiri. "Saya tidak tahu sejarahnya Belanda menamai lapas ini dengan nama Lapas Sukamiskin. Padahal di Jawa Barat ini ada banyak nama suka yang lain. Ada Sukajadi, Sukaluyu, Sukasenang. Tapi kenapa Sukamiskin. Jadi enggak usah dimiskinkan saja kita sudah sukamiskin," canda Hari.
Dia mengapresiasi kedatangan Mahfud yang bersedia hadir memenuhi undangan dari para warga binaan.
"Kedatangan Pak Mahfud ini sungguh membesarkan hati kami yang pada sebagian orang menempatkan kami pada tempat yang terhina. Ibarat roda, kami ini ada dibawah, yang kena tanah. Terimakasih yang tulus kehadiran bapak," tuturnya.
Bahkan Hari pun mengaku sengaja berpakaian batik lengkap untuk menyambut Mahfud.
"Kalau dipotret seperti ini, saya enggak keligatan narapidana. Ini sengaja untuk menyambut Pak Mahfud," katanya.
Hari pun bernostalgia saat awal dirinya mengenal Mahfud. Saat itu, Mahfud menjadi Menteri Pertahanan pada masa kepemimpinan Gusdur, sementara Hari kala itu menjabat Wakil Ketua MPR RI.
"Waktu itu saya memberikan dukungan pada Pak Mahfud. Meskipun bukan tentara, tapi jangan ragu jadi Menteri Pertahanan. Saya support waktu itu," ungkap Hari.
Menanggapi cerita Hari, Mahfud pun mengungkapkan bahwa dirinya tak lupa. Ia mengatakan, saat itu banyak sekali yang mendukungnya.
(tya/ahy)











































