Masyarakat Semarang Tak Pedulikan Wabah Antraks
Rabu, 27 Okt 2004 17:45 WIB
Semarang - Teror antraks yang mencuat belakangan ini, ternyata tak membuat masyarakat Semarang resah. Aktivitas yang berurusan dengan daging kambing berjalan seperti biasanya.Pedagang daging kambing di Pasar Johar Semarang, Sri, menyatakan, meski adakemungkinan manusia tertular antraks, dirinya sama sekali tak khawatir. "Kami mengambil dari rumah pemotongan hewan kok," katanya ketika ditemui dikiosnya, Rabu (27/10/2004).Sri menambahkan, setiap ada drop daging dirinya yakin bahwa daging itupasti sudah diperiksa petugas kesehatan. Karenanya meski ada berita manusiayang dirawat di rumah sakit gara-gara antraks, dia mengaku tak ambilpeduli dengan adanya penyakit itu.Pedagang daging sapi yang berjualan di tempat yang sama, Bedjo, mengatakan hal senada. Dirinya yakin jika kejadian yang berada di Bogor itu tak akan menular ke Semarang. Ditambah lagirumah pemotongan hewan tak akan beranimenjula jika ada daging yang ada virus penyakit tersebut."Wabahnya kan jauh di Jawa Barat sana, kami tidak khawatir kok. Ya sepertibiasanya saja," ungkapnya.Kedua pedagang tersebut mengaku memang ada penurunan penjualan hingga 50 persen. Namun mereka menduga penurunan ini disebabkan karena daya beli masyarakat menurun. Saat Ramadan, kebutuhan konsumen lebih terfokus padakebutuhan lain."Wajar kalau turun, mungkin karena puasa. Saat ini harga daging sapi 28 ribu - 30 ribu rupiah. Sedangkan untuk daging kambing harganya sekitar 30 ribu per kilogram," jelas Sri.Beberapa konsumen di Pasar Johar dan Peterongan yang ditemui detikcom juga mengaku tak khawatir dengan adanya antraks. Mereka berpikir kejadian itu tak akan terjadi di Jateng, khususnya di Semarang.Kekhawatiran justru muncul dari para penjual kambing. Salah satu penjual di Pasar Kambing, Jl. Tentara Pelajar, takut kalau kambing yang dijualnya kena penyakit antraks. Kambing-kambing yang dijualnya berasal dari Boyolali."Saya sih belum pernah mendengar bagaimana tanda-tanda penyakit itu. Saya cuma tahu pilek, mencret, atau gudik pada hewan. Atau yang bulunya rontok," kata Sis yang menjual kambingnya seharga 350 sampai 750 ribu rupiah perekor.
(nrl/)











































