Politisi Artis, Nama Populer Kinerja Tak Moncer

Politisi Artis Hanya Pemanis

Politisi Artis, Nama Populer Kinerja Tak Moncer

- detikNews
Senin, 29 Jul 2013 15:29 WIB
Politisi Artis, Nama Populer Kinerja Tak Moncer
Para politisi dari kalangan artis menolak disepelekan ketika terjun menjadi seorang politisi.
Jakarta - Tak hanya dalam pemilihan kepala daerah, sejumlah artis juga maju di pemilihan anggota legislatif. Bahkan tahun ini menurut Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia jumlahnya cenderung meningkat. Salah satu pemicunya adalah alasan adanya hak politik yang sama bagi semua orang, termasuk artis. Gayung bersambut, partai politik yang cenderung pragmatis pun punya kepentingan untuk rekrut orang populer.

Popularitas yang dimiliki insan dunia hiburan dinilai sebagai modal besar yang membuat mereka berpeluang mendongkrak keterpilihan. Sayangnya, tak semua artis tersebut memiliki pengalaman mumpuni dalam politik praktis. Walhasil, sejumlah artis yang terpilih di pemilihan kepala daerah tidak betah. Sementara kinerja kalangan artis yang terjun ke dunia politik dan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat kini terus dipertanyakan.

Koordinator FORMAPPI Sebastian Salang menyebut sederet artis beken sengaja dipajang sebagai pemanis. Sebagian besar kalangan artis di Senayan tidak menunjukkan kinerja yang berdampak luas bagi publik. Dia membagi artis di Senayan menjadi tiga kelompok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertama, kelompok yang sama sekali tak terdengar suara dan perannya; kedua, punya peran namun luput dari media; dan ketiga, yang suara kiprahnya dikenal publik. “Artis di parlemen itu beragam, yang paling banyak adalah kelompok artis yang tidak terdengar suaranya dan tidak terlihat perannya di DPR, sehingga memang pantas disebut sebagai pemanis atau pelengkap saja,” kata Sebastian kepada detikcom.

Menurutnya artis yang kiprahnya menonjol sebagai wakil rakyat hanya segelintir dan bisa dihitung jari. “Saya sebut kelompok ketiga saja, ada Oneng (Rieke Dyah Pitaloka), Miing, Nurul Arifin dan Tantowi,” kata dia. Sisanya, menurut Sebastian, masuk dalam kelompok yang kinerjanya tidak terlalu menonjol atau bahkan tidak ada perannya sama sekali.

Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari melihat hanya ada beberapa politisi dari kalangan artis di Dewan Perwakilan Rakyat yang memiliki kompetensi menonjol. Antara lain Rieke Diah Pitaloka dan Nurul Arifin. “ Lainnya hanya sebagai sebagai votegater atau penarik suara serta sebagai kembang-kembang Pemilu,” kata Qodari kepada detikcom, Senin (29/7).

Ada juga artis yang sebenarnya memiliki modal kemampuan intelektualitas, namun perannya sebagai anggota DPR justru tidak menonjol. Qodari mencontohkan, Eko Patrio yang meski memiliki kompetensi sebagai legislator tapi sampai kini terlihat justru lebih aktif di dunia entertainment.

“Yang kami khawatirkan ketimbang ke Senayan, mereka lebih banyak ke panggung-panggung hiburan, ketimbang mendalami undang-undang lebih banyak ke salon, atau ketimbang ke konsituen lebih banyak cari penghasilan” kata dia.

Politisi Partai Amanat Nasional, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio mengaku tetap aktif melaksanakan tugasnya sebagai legislator, meski tidak sering jadi sorotan media. Salah satu buktinya, dia mengklaim saat ini ditunjuk menjadi salah satu pemimpin Fraksi PAN, dan juga menjadi wakil sekretaris jenderal partai berlogo matahari terbit itu.

"Saya enggak mau seperti banci tampil di media, saya bekerja secara nyata seperti misalnya nolak Hambalang. Kinerja bukan dilihat dari seberapa sering tampil di media,” kata Eko kepada detikcom Senin (29/2).

Eko mengakui memang masih aktif di bidang entertainment, namun itu lebih banyak di belakang layar. Misalnya menjadi produser dalam pembuatan film Lupus. Sementara anggota Dewan Perwakilan Rakyat Venna Melinda menolak anggapan bahwa politisi artis hanya sebagai pemanis. “Harus disadari dari awal, beban latar belakang artis pasti publik punya pandangan sendiri. Nah, ini soal proses waktu. Intinya ya kami harus total membuktikannnya,” kata Venna.

(erd/erd)


Berita Terkait