"Seruan kepala militer Mesir, Jenderal Abdel Fattah al Sisi agar rakyat turun ke jalan melawan apa yang mereka sebut sebagai mandat menumpas teroris, yang ditujukan kepada pendukung Morsi, adalah seruan konyol. Seruan itu sama halnya menabuh genderang perang saudara," kata Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto.
Sejak saat itu, lanjut dia, perang antar pendukung dan penentang terjadi setiap hari. Parahnya lagi, kata dia, militer yang menyokong massa penentang Morsi, menggunakan cara-cara kekerasan untuk menumpas para pendukung Morsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengecam aksi biadab militer Mesir yang membunuh warga sipil tak berdosa, seperti kejadian Sabtu dini hari kemarin, yaitu militer menembak mati tak kurang 70 warga sipil pendukung Morsi yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan.
Menurut Hery, yang juga fungsionaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini, tindakan sewenang-wenang militer Mesir itu menunjukkan mereka frustasi menghadapi pendukung Morsi yang digulingkan militer secara inkonstitusional, bulan lalu. Militer Mesir, kata dia, memakai kekerasan untuk membungkam dan memaksa pendukung Ikhwanul Muslimin dan Morsi, untuk menerima kudeta oleh militer.
Untuk itu, pihaknya menyerukan militer untuk menghentikan kekerasan. Cara kekerasan, katanya, tidak akan menghentikan aksi damai para pendukung Ikhwanul Muslimin. Militer harus belajar menghargai dan menghormati kebebasan berpendapat dan berserikat.
Dia juga meminta pemerintah RI untuk bersikap tegas dan memberikan kontribusi bagi penyelesaian konflik Mesir.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI telah menyerukan agar kekerasan di Mesir segera dihentikan. Kemenlu mendorong agar kelompok-kelompok yang bertikai melakukan rekonsiliasi.
"Jadi intinya Indonesia serukan agar kekerasan segera dihentikan. HAM dihormati, serta semangat rekonsiliasi dikedepankan," tegas Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa ketika dihubungi detikcom, Minggu (28/7/2013).
Indonesia mengajak masyarakat internasional berpartisipasi aktif mendorong rekonsiliasi di Mesir.
"Tidak ada tempat bagi penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan. Masyarakat internasional perlu aktif mendorong upaya rekonsiliasi di Mesir," imbuh Marty.
(nrl/nrl)











































