Warga Jepang Diculik, Koizumi Tolak Tarik Pasukan dari Irak
Rabu, 27 Okt 2004 10:50 WIB
Jakarta - Penyanderaan warga asing terus terjadi di Irak. Kelompok bersenjata Irak mengklaim telah menculik seorang warga Jepang. Mereka mengancam akan memenggal tawanan tersebut dalam waktu 48 jam jika pasukan Jepang tidak ditarik dari Irak.Namun Perdana Menteri (PM) Jepang Junichiro Koizumi menolak untuk memenuhi tuntutan tersebut. "Pasukan tidak akan ditarik mundur," tegas PM Koizumi seperti dikutip kantor berita Jepang, Kyodo dan dilansir AP, Rabu (27/10/2004).Sejauh ini belum jelas identitas warga Jepang yang disandera itu. PM Koizumi telah memerintahkan satu gugus tugas darurat untuk mencari tahu identitas sandera dan berupaya membawanya pulang.Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang Nobutaka Machimura menyatakan, kementeriannya mendapat informasi bahwa seorang pria Jepang pergi ke Baghdad dari Amman, Yordania, dan sejak itu ia dikabarkan menghilang. Dituturkan Menlu, dirinya akan mengirim pejabat ke Yordania untuk membentuk tim guna menyelidiki insiden ini.Dalam rekaman video yang dirilis penculik, terlihat seorang pria mengenakan kaos putih yang memohon Koizumi untuk menarik pasukan Jepang dari Irak. "Mereka bertanya pada saya mengapa pemerintah Jepang mengirimkan pasukan ke Irak," ujar sandera itu dalam bahasa Inggris. Ia sempat terdiam sebelum kemudian menarik nafas dan berbicara dalam bahasa Jepang. "Tuan Koizumi, mereka ingin penarikan Pasukan Pertahanan Jepang... dan mereka akan memenggal kepala saya," tutur tawanan itu. "Saya minta maaf. Saya ingin kembali ke Jepang lagi," imbuhnya.Ini merupakan krisis penyanderaan ketiga yang melibatkan warga negara Jepang di Irak. Pada April lalu, tiga warga Jepang diculik kelompok bersenjata Irak yang mengancam akan membakar mereka hidup-hidup jika pasukan Jepang tidak ditarik. Dua orang lainnya ditawan pada waktu yang hampir bersamaan. Koizumi menolak untuk memenuhi tuntutan penculik, namun kelima sandera itu akhirnya dibebaskan.
(ita/)











































