"Kelihatannya memang ada proyeksi 2017, bisa dipahami," kata Dedi yang akrab disapa Miing, kepada detikcom, Selasa (22/7/2013).
Kekhawatiran Atut bukan tanpa alasan. Karena menurut survei, elektabilitas Rano terus naik setelah pelantikan. Sementara, menurut Miing, Atut sudah mempersiapkan saudaranya untuk Pilgub Banten berikutnya.
"Rano memang potensial jadi gubernur, elektabilitasnya bagus untuk 2017," katanya.
Namun banyak penyebab lain yang meretakkan hubungan Atut-Rano. Antara lain Atut yang tidak memberikan tugas secara proporsional kepada Rano sebagai wagub. Juga Atut yang membatasi akses media ke Rano.
Rano telah menyampaikan niat ingin mundur ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun Mega menyarankan Rano untuk bersabar.
Pasangan Ratu Atut-Rano Karno dilantik di Gedung DPRD Provinsi Banten pada Rabu (11/1/2012). Keduanya menang pilgub dengan meraih 2.136.035 suara atau 61 persen.
Rano Karno mulai merambah ke kancah politik sejak tahun 2007. Saat itu Rano sempat digembar-gemborkan maju ke Pemilu Kada DKI Jakarta untuk mendampingi Fauzi Bowo menjadi Wakil Gubernur. Namun entah mengapa, 'Si Doel' ini akhirnya tak jadi berlaga di Pilkada DKI.
Akhir tahun 2007, Rano Karno maju ke Pemilu Kada Kabupaten Tangerang, menjadi calon Wakil Bupati mendampingi Ismet Iskandar yang bertarung sebagai Bupati pada tahun 2008. Ismet-Rano akhirnya menang dan menjabat Bupati-Wakil Bupati Tangerang periode 2008-2013. Namun di tengah jalan, pada tahun 2011, Rano mundur karena menang sebagai Wagub Banten.
Sementara, Ratu Atut adalah politisi Golkar berusia 51 tahun. Dia menjadi gubernur pada pilgub tahun 2007 dan 2011. Sedang pada pemilihan pada 2002, dia menang sebagai wagub. Saat gubernur tersangkut korupsi, dia menjadi Plt Gubernur Banten selama 2 tahun. Dia tercatat sebagai gubernur wanita pertama di Indonesia.
(van/nrl)











































