Menhub: Improvement Layanan Publik Program 100 Hari Kerja

Menhub: Improvement Layanan Publik Program 100 Hari Kerja

- detikNews
Rabu, 27 Okt 2004 02:28 WIB
Jakarta - Peningkatan layanan publik menjadi program 100 hari kerja Menhub Hatta Radjasa. 'Kasus' pertamanya sudah pasti angkutan Lebaran, baik darat, udara, maupun laut."Program 100 hari kerja adalah improvement layanan publik. Kita akan membuat kebijakan yang tidak tumpang tindih."Hal itu disampaikannya di sela-sela rangkaian kunjungan ke Kantor Pusat PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II jalan Pasoso Tanjung Priok Jakarta Utara, kemudian ke Terminal 1A Keberangkatan Dalam Negeri Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Selasa (26/10/2004). Sebelumnya dia juga mengunjungi Stasiun Kereta Api (KA) Gambir, Senen, dan Pelabuhan Tanjung Priok."Pada dasarnya ada 3 garis besar yang menjadi fokus kita yang juga dijabarkan dalam agenda aksi. Jadi 100 hari ini adalah indikator kesuksesan bagi pemerintah," ujarnya.Dituturkan dia, harus ada shock therapy untuk memberi keyakinan kepada publik memang ada perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat."Tiga hal yang menjadi garis besar terkait udara, darat, dan pelayaran adalah policy reform. Jadi kita harus melakukan revitalisasi kepada kebijakan-kebijakan yang kita rasa tidak menguntungkan, dan masing-masing Dirjen terkait sudah menyiapkan fungsi apa saja yang kita perlukan agar ada peningkatan-peningkatan pelayanan, encouraging pada private sector," urainya.Contohnya, lanjut dia, bagaimana membuat pelayanan yang terkait dengan regulasi yang dirasakan publik agak lambat menjadi ada peningkatan pelayanan publik yang bisa memberikan pelayanan yang memadai dalam transportasi nasional."Kemudian good governance berkaitan dengan transparansi dan efisiensi. Ini untuk mengatasi kebocoran. Jadi saya yakin ini dapat mencapai persolan-persoalan. Yang kita inginkan adalah agar kita tidak terjebak dalam sistem yang dikembangkan," kata Hatta.Kemudian dia memaparkan persiapan angkutan Lebaran meliputi kereta api (KA), pelabuhan, dan penerbangan. Mengenai tiket KA, menurut dia, sejak H-30 sudah dibuka dengan jumlah loket yang banyak, sehingga penumpang bisa mengatur jadwal perjalanannya, karena ada pilihan waktu yang cukup."Tiket untuk kelas ekonomi yang dijual pada hari keberangkatan memang diperkirakan nanti banyak antrean. Oleh sebab itu akan diantisipasi dengan memperluas loket-loket dan membuka loket-loket darurat, dengan demikian arus antrean berkurang. Dimana juga mereka bisa membeli, maka diantisipasi dengan memperluas loket-loket dengan membuka loket darurat. Itu antisipasi untuk KA," kata Hatta.Kemudian di pelabuhan, sambung dia, juga banyak improvement yang dilakukan persiapan-persiapan. Namun angkutan laut tidak sesibuk angkutan darat."Kita lihat mereka siap, sangat siap. Saya kira tidak ada hambatan apa-apa. Saya tekankan tadi pada Pelindo agar memberikan keseimbangan antara perusahaan yang mencari keuntungan, tapi juga meningkatkan pelayanan," ujar Hatta.Lalu saat mendapat paparan dari Dirut PT Angkasa Pura, dia mengaku melihat banyak sekali improvement yang disampaikan. Misalnya masalah TKI yang bisa dikatakan agak semrawut, mulai ditata dengan baik.Misalnya, tutur Hatta, ada bandara khusus untuk TKI. Begitu TKI tiba di bandara, sebelum mereka masuk ke terminal 3, mereka sudah bisa beraksi sebentar di tempat sangat layak."Nanti fasilitas ini saya resmikan bersama Menakertrans. Jadi ada peningkatan pelayanan yang cukup baik, juga penataan pelayanan kepada para penumpang, mulai dari pilot yang sudah mulai ditingkatkan improvement-nya, kemudian juga bandara yang mulai ditingkatkan. Kalian juga sudah melihat bagaimana taksi-taksi mulai ditertibkan," urainya.Hatta berharap peningkatkan tersebut sampai kepada pelayanan-pelayanan yang menyangkut safety. "Jadi jangan sampai ada lagi calo atau preman-preman yang membuat para TKI kita yang sering sekali menjadi korban pemerasan," tukasnya.Dia juga menampik pernyataan kalau tiket sudah habis. Diakuinya, memang untuk kelas bisnis dan VIP terjual cukup banyak, atau sisa sedikit. Tapi untuk kelas ekonomi tidak mungkin habis karena dijual pada hari keberangkatan."Ada 209 kereta api ditambah cadangan sebanyak 13 gerbong. Tadi saya tanyakan kepada Dirutnya, mereka sudah siap mengantisipasi lonjakan penumpang," kata Hatta.Mengenai upaya memberantas calo, dia mengaku sudah bicara dengan Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar untuk sama-sama melakukan koordinasi. Bahkan akan diadakan perjalanan atau inspeksi mendadak bersama."Ada 14 titik rawan, tapi sebenarnya ada 8 kemungkinan yang potensial mengganggu, mulai dari pasar tumpang, sampai timbangan (jembatan timbang) yang mengganggu, hingga pada kemungkinan hujan pada H-7. Oleh sebab itu kita harus perhatikan dan kita antisipasi dengan baik," kata Hatta.Menurut dia, jembatan timbang pada hari H nantinya akan ditutup supaya arusnya lancar. Begitu juga terhadap daerah-daerah pasar tumpah yang membuat bottle neck, kepolisian sudah berjanji pada hari H nanti itu sudah bersih.Mengenai pihak yang paling bertanggung jawab dalam penanganan angkutan, Hatta menegaskan, yang terpenting adalah koordinasi yang baik. Namun tentunya harus ada yang bisa mengambil decision, jika menyangkut aspek hukum, maka pihak kepolisian yang bertanggung jawab."Hanya memang kita harus juga membuat aturan-aturan yang firm, yang membuat para calo tidak leluasa. Misalnya membuat banyak online ticketing. Pokoknya program 100 hari adalah improvement layanan publik. Kita bikin kebijakan yang tidak tumpang tindih. Harus ada polisi yang tegas. Ini nanti harus kita benahi," demikian Hatta Radjasa. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads