Menteri Hukum dan HAM Sidak ke LP Perempuan Pondok Bambu
Rabu, 27 Okt 2004 02:02 WIB
Jakarta - Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke bui. Kali ini LP Perempuan Pondok Bambu Jakarta Timur.Dia tiba di lokasi pukul 22.30 WIB, Selasa (26/10/2004). Dia berada di lokasi sekitar sejam, dan meninggalkan lokasi sekitar pukul 23.45 WIB. Sehari sebelumnya, Hamid sidak ke LP Salemba, juga pada malam hari.Di LP Pondok Bambu, Hamid berkeliling ke seluruh blok yang ada di sana, yang berjumlah 3, yaitu blok wanita, anak, dan narkoba.Dari hasil sidak, dia menilai fasilitas di LP tersebut sudah tidak layak lagi. Indikasinya adalah banyaknya sel yang dihuni oleh narapidana lebih dari kapasitas normalnya.Hampir seluruh sel yang ada rata-rata berisi 3 kali lipat dari jumlah seharusnya. Normalnya satu sel berisi 8 orang, ternyata banyak yang dihuni 16-20 orang."Saya akan berusaha mencari solusi dengan memindahkan para narapidana ke LP lain yang masih ada tempat. Namun apabila semua LP kondisinya overload, mau tidak mau harus bikin yang baru," kata Hamid.Hamid tiba di LP Pondok Bambu dalam kondisi undercover alias penyamaran. Dia datang memakai mobil pinjaman dari stafnya di departemen dan mengemudikan sendiri mobil tersebut. Dia tidak menggunakan mobil dinas, sopir maupun pengawal yang seharusnya menyertainya. Dia mengenakan kemeja putih, bukan jas.Setibanya di LP, rupanya petugas LP tidak mengenali Hamid. Hamid pun diperiksa petugas karena datang di luar jam berkunjung. Hamid dimintai identitas dan ditanya ada keperluan apa berkunjung malam-malam.Setelah Hamid memperkenalkan diri sebagai menteri, beberapa petugas yang sebelumnya bergerombol segera berlarian ke pos masing-masing. Apalagi setelah menyadari banyak wartawan, kamerawan, dan fotografer yang menyertai Hamid.Saat keliling bui, Hamid sempat bertanya pada petugas mengenai keluhan para napi, yakni adanya perbedaan fasilitas, terutama untuk blok narkoba. Beberapa sel di sana memiliki fasilitas lengkap dan hanya dihuni 1 orang, seperti kamar mandi pribadi, televisi, lemari es, dan kasur busa.Para napi mengeluh kepada Hamid karena hanya napi kaya yang tinggal di sel tersebut, dan harus membayar untuk mendapatkan fasilitas tersebut.Ketika dikonfirmasi oleh Hamid, petugas membantah adanya perlakuan khusus dan 'upeti' tersebut. Dijelaskan petugas, sel tersebut memang dilengkapi fasilitas. Namun itu merupakan sel adaptasi.Maksudnya, lanjut sang petugas, sel itu hanya diperuntukkan bagi narapidana narkoba yang baru masuk. Sebab sebagian besar mereka berasal dari orang mampu. Jika langsung ke sel umum, dikhawatirkan akan menimbulkan keonaran akibat perubahan drastis yang diterima. Lama tinggal para napi baru di sel tersebut ada 1-2 minggu, kemudian dipindahkan ke sel umum.
(sss/)











































