Habis Soeharto Lahirlah Partai Keadilan

Metamorfosis PKS

Habis Soeharto Lahirlah Partai Keadilan

- detikNews
Selasa, 23 Jul 2013 12:10 WIB
Habis Soeharto Lahirlah Partai Keadilan
Fotografer: Pembaca
Jakarta - Berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 membuat ruang bagi aktivis politik Islam kembali terbuka lebar. Sejumlah alumni Timur Tengah membikin halaqoh tarbiyah di kampus-kampus. Saat gelombang reformasi muncul, timbul ide dari beberapa pimpinan untuk mendirikan partai politik. Ada 12 anggota Majelis Syuro yang waktu itu terlibat, antara lain; Hilmi Aminuddin, Salim Segaf Al Jufri, Abdul Sakur, dan Yusuf Supendi.

“Awalnya saya menolak mendirikan partai karena jumlah aktivis masih sedikit jadi belum siap,” kata Yusuf Supendi kepada Detik akhir pekan lalu. Dan pada 20 Juli 1998 dalam sebuah konferensi pers di Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan lahirlah Partai Keadilan.

Almuzzammil Yusuf, yang juga salah satu pendiri mengatakan, lahirnya Partai Keadilan bermula dari gagasan aktivis dakwah kampus. “Di dalamnya juga ada aktivis dan tokoh KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang ikut memberi gagasan,” kata Almuzzamil. Sementara Pengamat Politik Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya Dilema PKS menyebut, di awal berdirinya Partai Keadilan rajin menggelar aksi ekstra-institusional. Ini dilakukan untuk menarik perhatian publik.

Menurut Burhanuddin, Partai Keadilan lahir melalui gerakan sosial bernama Tarbiyah, lalu bermutasi menjadi partai politik, basisnya ialah kelompok muslim terdidik, muda, dan kelas menengah kota. Pendirian Partai Keadilan terinspirasi dari gerakan di Timur Tengah. Ada tiga tahapan kelahiran partai ini, yakni fase dakwah kampus, pembentukan gerakan mahasiswa, dan gerakan politik. Lahirnya Partai Keadilan tak bisa dilepaskan dari ketidakpuasan atas ketidakramahan dan tindakan represif rezim Soeharto terhadap kelompok Islam politik pada tahun 1960. Pada tahun 1967 lahirlah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), pendukung paling vokal Islam politik. Menurut DDII, Islam bukan sekedar agama melainkan juga ideologi politik.

DDII memilih jalur revitalisasi dakwah dengan membidani proses kelahiran gerakan sosial Islam yang lebih cair di sejumlah perguruan tinggi. Antara lain; Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, dan sejumlah universitas di Makassar dan Padang. Burhanudin juga menyebut pemikiran dan model aktivisme Ikhwanul Muslimin pada akhirnya juga mempengaruhi alumni DDII. “Mengingat DDII sudah menjali hubungan intensif dengan Liga Dunia Islam,” tulis Burhanuddin.

Dakwah kampus pun bermetamorfosis menjadi unit kegiatan mahasiswa yakni Lembag Dakwah Kampus (LDK) di universitas-universitas, lalu didirikannya Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), jejaring aktivis LDK antarkampus. Kemudian dibentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dari pertemuan tahunan FSLDK ke-10 di Malang pada 1998.


(erd/erd)


Berita Terkait