Pemkab Wonogiri Jamin Sapi Asal Daerahnya Bebas Antraks
Selasa, 26 Okt 2004 14:42 WIB
Solo - Selain dikenal sebagai penghasil mete, Wonogiri juga dikenal sebagai daerah ternak sapi potong. Di Jawa Tengah, daerah tersebut menempati urutan pertama pengirim daging sapi potong ke Jakarta dan Surabaya. Karenanya pihak Pemkab perlu meyakinkan bahwa daging sapi dari daerahnya bebas dari penyakit antraks."Kami melakukan seleksi ketat terhadap sapi-sapi yang akan masuk. Selain itu saya telah menginstruksikan kepada Dinas Kehewanan untuk langsung melakukan pengecekan ke desa-desa. Apalagi Departemen Pertanian telah mencatat delapan provinsi termasuk Jateng sebagai daerah endemis antraks," ujar Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidi kepada wartawan, Selasa (26/10/2004).Hasilnya, sejauh ini tidak ada laporan bahwa sapi yang dipelihara di Wonogiri terjangkiti bakteri anthraks. Daerah kami steril dari penyakit tersebut. Dengan demikian kami meyakinkan bahwa daging sapi potong asal Wonogiri, ditinjau dari segi kesehatannya, sangat aman untuk dikonsumsi," lanjutnya.Begug memaparkan bahwa di Jawa Tengah, Wonogiri merupakan kabupaten terbesar kedua setelah Purwodadi untuk pemeliharaan sapi potong. Namun dia tidak bersedia menyebut jumlah pasti sapi potong yang ada di daerahnya. Sedangkan untuk suplai kebutuhan daging sapi di Jakarta dan Surabaya, Wonogiri menduduki tempat teratas dibanding kabupaten lainnya di Jawa Tengah.Sapi-sapi potong tersebut, lanjut Begug, didatangkan dari Australia. Sebelum masuk Wonogiri, sapi itu lebih dulu diseleksi ketat di Cilacap. Setelah sekitar dua pekan berada di Cilacap tanpa menunjukkan gejala sakit, baru sapi-sapi tersebut dikirim ke Wonogiri. "Kami sebarkan ke para petani di Wonogiri secara merata, namun yang paling banyak dipelihara di daerah Ngadirojo," paparnya.Selain Wonogiri, Boyolali juga menjadi perhatian penting terhadap kemungkinan berkembangnya bakteri antraks. Pada tahun 2002 di Boyolali terdapat laporan adanya warga yang diindikasikan terserang antraks. Selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi Jateng saat itu menepis adanya berita itu, dengan bukti bahwa setelah dilakukan penelitian mikroskopis hasilnya negatif.Namun demikian ketika antraks kembali mewabah, Diskes Jateng segera melakukan penelitian intensif di kawasan penghasil susu sapi terbesar d Jateng tersebut. Alasannya antraks bukan penyakit ringan, karenanya sebelum ada kejadian maka pihak Diskes segera menerjunkan tim untuk meneliti kemungkinan antraks di Boyolali.
(nrl/)











































