400 Ton Peledak Hilang, Mungkin Jatuh ke Gerilyawan Irak

400 Ton Peledak Hilang, Mungkin Jatuh ke Gerilyawan Irak

- detikNews
Selasa, 26 Okt 2004 10:57 WIB
Jakarta - Badan nuklir PBB mengingatkan bahwa kelompok gerilyawan di Irak mungkin mendapatkan hampir 400 ton bahan peledak yang hilang di negeri itu. Peledak tersebut bisa saja digunakan dalam berbagai serangan bom yang menargetkan pasukan koalisi pimpinan AS selama berbulan-bulan.Demikian disampaikan kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei. Ia melaporkan soal kehilangan ratusan ton bahan peledak itu kepada Dewan Keamanan PBB, Senin (25/10/2004) waktu setempat.Bahan peledak tersebut hilang dari fasilitas Al-Qaqaa, bekas instalasi militer Irak, dekat Youssifiyah, sekitar 30 mil sebelah selatan ibukota Baghdad. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mengapa pasukan AS tidak melakukan pengamanan terhadap fasilitas tersebut setelah melancarkan invasi ke Irak pada Maret 2003 lalu."Kekhawatiran paling besar adalah bahwa bahan-bahan peledak ini bisa jatuh ke tangan yang salah," ujar juru bicara IAEA Melissa Fleming seperti dilansir kantor berita Associated Press, Senin (26/10/2004). Dituturkannya, para pengawas IAEA melihat bahan peledak itu pada Januari 2003 ketika membuat catatan inventaris dan menempelkan segel baru pada bunker-bunker berisi bahan peledak. Inspektor IAEA kembali mengunjungi lokasi tersebut pada Maret 2003, namun tidak melihat bahan peledak itu karena segelnya tidak rusak. Gedung Putih tidak begitu merisaukan hilangnya bahan peledak tersebut. Berbeda dengan kubu kandidat presiden Demokrat, John Kerry yang langsung menuding Presiden George W Bush sangat tidak kompeten. "Bahan peledak ini bisa digunakan untuk meledakkan pesawat, gedung-gedung tinggi, menyerang pasukan kita dan meledakkan senjata nuklir," ujar penasihat senior Kerry, Joe Lockhart dalam statemennya. "Pemerintahan Bush tahu dimana bahan itu disimpan, namun tidak melakukan tindakan untuk mengamankan lokasi," imbuhnya.Namun Gedung Putih berdalih bahwa keprihatinan utama pemerintah adalah apakah kehilangan itu merupakan ancaman proliferasi nuklir. Dan jawabannya, tidak. "Kami telah menghancurkan lebih dari 243.000 munisi di Irak," katanya. "Kami telah mengamankan hampir 163.000 lainnya yang akan dihancurkan," imbuhnya. (ita/)


Berita Terkait