"Sekarang sudah turun banyak ya lumayan, seminggu doang paling Rp 100 ribu, kira-kira Sabtu kemarin sudah turun Rp 60 ribu per kg," tutur Sukiyem, 55 tahun, saat ditemui Detikcom di Pasar Kramat Jati, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Senin (15/7/2013).
Meskipun harga cabai sudah turun, para pedagang tetap merasa pemasukannya tetap menurun. Ibu empat anak yang sudah berjualan selama 19 tahun itu merasa memasuki bulan puasa tahun ini, pembeli sangat sepi dari sebelumnya. Dagangan hanya ramai pembeli ketika tiga hari awal puasa saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ning, 60 tahun, yang sehari-harinya berjualan cabai di Pasar Kramat Jati. Ibu 3 anak itu mengatakan kenaikan harga cabai, bawang, dan bumbu masak lainnya membuatnya pusing karena kuntungan yang diperoleh tidak seberapa.
"Keuntungannya tipis banget, kadang nombok. Apa-apa sekarang mahal, saya pusing. Sampai jam 10 saja belum ada satu pun penglaris," keluh Ning kepada Detikcom. Ibu tiga anak ini mengaku setiap hari sudah menjajakan dagangannya sejak pukul 04.00.
Ning mengaku harga cabai naik membuat hidupnya kekurangan. Bahkan saat cabai naik hingga mencapai Rp 125 ribu, ia memilih tidak berbelanja daripada harus nombok. Ia mendapatkan barang dagangannya dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Tidak hanya mereka, Muktamar yang sehari-harinya berjualan cabai juga merasa sepi pembeli saat memasuki bulan puasa tahun ini karena kenaikan harga yang melonjak tinggi. Meskipun harga cabai kini sudah turun, pria 24 tahun itu tidak merasa penurunan tersebut ada pengaruh terhadap keuntungannya.
"Tahun ini sepi banget-banget ya. Tahun kemarin masih mending, jam segini belum habis, biasanya sebelum puasa jam 10 saya sudah beberes," ujarnya.
Pantauan Detikcom, suasana pasar memang cukup sepi tidak seramai hari biasanya. Para pedagang banyak yang menganggur menunggu pembeli.
(aln/ndr)










































