"Ya harapannya sih turunin saja harga semuanya. Supaya rakyat-rakyat kecil bisa makan. Bensin udah naik. Semua butuh untuk anak sekolah," ujar Natalia, Senin (15/7/2013).
Harga cabai rawit memang gola-gilaan, kemarin saja sampai tembus ke Rp 120 ribu per Kg. Dia mengaku walau harga cabai atau sayur meroket, dirinya tak pernah untung besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdagang sayur dan cabai berpacu dengan waktu. Kalau kelamaan menyimpan, sayuran atau cabainya bisa busuk. Natalia mesti pintar-pintar melepas barang dagangannya.
"Ibu punya enam anak, tapi empat udah pada nikah. Udah pada kerja, tinggal dua doang. Ada yang lulus S1 dan D3. Alhamdulillah puji tuhan. Amin," kisahnya saat sedang sibuk berdagang.
Menjadi pedagang sayur tidak segampang yang dipikir orang. Apalagi sekarang ada supermarket yang menjadi saingan. Karenanya, dia mesti tetap menjaga pelanggan agar tetap datang.
"Nggak kurangi timbangan, makanya saya awet. Saya doang disini yang lama, semuanya baru," akunya sambil tertawa kecil.
Dengan suara lantang, ia selalu menawarkan kepada ibu-ibu yang sedang mencari kebutuhan pokok seperti sayuran, cabai, dan bawang dengan ramah. Opung Natalia pun tak segan memberikan bonus, andai pembeli belanja banyak sayuran.
"Kalo yang beli saya selalu dipasin aja timbangannya. Kalo ditambahin malah rugi. Tapi, kalo ada yang belanja banyak, baru kita kasih tambah apa," katanya usai melayani pembeli sambil menghambur-hamburkan cabai rawit.
(ndr/ndr)











































