Tak diketahui tujuannya, 3 personel Provost tiba-tiba menerobos pintu utama LP dan berbaur dengan personel TNI dan sipir. Mereka membawa kertas, seperti akan mencari data. Langkah ketiga polisi itu terhenti saat napi berteriak, 'Huuu, hooi'.
Beberapa personel TNI Yonzipur Kodam Bukit Barisan ikut meredam suasana. Mereka memberi kode agar ketiga polisi itu mundur untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam kerusuhan yang berlangsung sejak Kamis (11/7) petang hingga Jumat dini hari, para napi menyatakan tidak ingin dijaga polisi, tapi tentara. Akhirnya TNI bersiaga di garis depan, sedangkan polisi bersifat membantu di ring luar.
Saat ini, personel TNI yang bersenjatakan tongkat dan tameng berada di dalam LP. Sesekali terdengar teriakan napi, tapi sejauh ini tidak ada kericuhan.
Kerusuhan di LP yang dibangun tahun 1982 itu semula dipicu masalah air yang tidak mengalir karena aliran listrik dari PLN padam. Tuntutan napi kemudian bertambah dengan pencabutan PP 99/2012 tentang pengetatan remisi. Berdasar PP itu, napi kasus terorisme, korupsi, illegal logging, narkotika, HAM dan transnasional, mendapat remisi dengan syarat diperketat dibanding napi kasus lainnya.
(try/nrl)











































