Makna Ibu Jari Terjepit Meriam Si Jagur di Museum Jakarta

- detikNews
Jumat, 12 Jul 2013 06:46 WIB
Jakarta - Sudah kenal dengan meriam bersimbol ibu jari yang diapit antara telunjuk dan jari tengah? Ya, itulah meriam yang amat tersohor di zamannya, Si Jagur. Meriam itu menjadi salah satu koleksi museum sejarah Jakarta.

Si Jagur dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta atau dikenal dengan Museum Fatahilah, area Kota Tua, Jakarta Barat. Meriam ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi.

Julukan si Jagur sendiri diambil dari nama benteng suci Portugis, St Jago de Barra. Yang menarik, ada ciri unik pada meriam itu. Ada tangan dengan ibu jari terjepit yang tampak pada bagian belakang meriam tersebut.

Ada juga yang menyebut simbol juga berarti wanita yang memakai gelang mutiara di pergelangannya. Mengapa dibentuk seperti itu?

"Itu bahasa Portugisnya 'mano in figa', maksudnya lambang kepercayaan dan kesuburan, dan juga untuk mengejek orang Belanda yang saat itu menjadi musuh besar Portugis," papar Akum Suhanda, pensiunan pemandu Museum Sejarah Jakarta, saat ditemui Detikcom di area belakang museum, Jalan Taman Fatahilah Nomor 1, Jakarta Barat, Kamis (11/7/2013).

Si Jagur memang diciptakan oleh Portugis dalam bentuk yang tidak biasa. Dibuat dari 16 meriam kecil yang dilebur. Tak heran bila Si Jagur memiliki ukuran serta berat yang sangat besar. Panjang meriam mencapai 3,81 meter dengan berat 7.000 lb atau 3,5 ton, belum ditambah diameter dalamnya sebesar 24 cm.

Meriam peninggalan abad ke-16 itu dapat memuat peluru batu 36 pon atau peluru besi 100 ton. Adapun ukiran tulisan latin 'Ex me ipsa renata sum' di bagian belakang yang artinya 'saya lahir kembali dari diri saya' yang juga menjadi ciri khas meriam itu.

"Itu (meriam) diberikan kekuatan magic, artinya sebuah logam diberikan makhluk ghaib oleh manusia. Meriam itu sangat dahsyat ya memang digunakan untuk perang," tutur Khasirun, pria 46 tahun yang bekerja di bagian koleksi dan perawatan museum ini.

Sambil membetulkan letak kaca matanya, Khasirun sedikit menceritakan mengenai sejarah meriam Si Jagur. Meriam besi ini sengaja dibuat oleh Portugis untuk perang. Meriam ini digunakan saat Portugis mengusai Selat Malaka di abad 16, meriam tersebut kemudian dibawa ke Indonesia.

Tapi kemudian Portugis dikalahkan Belanda. Dan Si Jagur berpindah tangan digunakan pasukan kolonial Belanda yang pada akhirnya dibawa ke area Batavia atau Jakarta.

"Begitu Belanda hengkang dari Indonesia, meriam tidak terbawa dan ditemukan dekat dengan pesisir hutan, lalu dibawa ke Museum Nasional yang akhirnya diserahkan ke sini," cerita pria yang sudah bekerja di museum sejak tahun 1989 itu.

Khasirun menambahkan, sebelum tahun 2008 meriam ini kerap dianggap suci oleh masyarakat tertentu yang konon kabarnya bisa segera dapat jodoh serta cepat punya keturunan kalau menyembah Si Jagur.

Maka tak heran bila dulu banyak orang melakukan ritual dengan meletakkan sesajian berupa makanan atau wewangian di depan meriam untuk berdoa. Seiring perkembangan zaman, kegiatan ritual tersebut sudah tidak ada. Bahkan kerap pengunjung berfoto ria dengan menduduki meriam itu, walau ada peringatan agar tak duduk di atas meriam.

(aln/ndr)