Pesan Terakhir Mutia Korban Bom Kedubes Australia
Senin, 25 Okt 2004 13:37 WIB
Jakarta - "Kalau aku meninggal, barang-barangku dikasih ke orang miskin yang membutuhkan. Jangan dikasih orang yang mampu. Aku juga banyak utang puasa tolong dibayar fidyahnya," kata Mutia.Demikian pesan terakhir ini disampaikan Mutia Rahmani Amalia (16) kepada ibundanya Sulisita Pratiwi (42) sebelum menghadap sang Khalik. "Mendengar itu, saya sedih sekali tetapi saya besarkan hati dan menyadari itu wajar pesan orang yang hampir meninggal," kata Pratiwi di rumah duka, Jalan Anggrek IV/21, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (25/10/2004).Menurut Pratiwi, putrinya sangat gemar sekali menyantap masakan Padang. "Setiap hari, Mutia juga minta dimasakin masakan Padang, seperti daun singkong, gulai nangka, balado dan lain-lain," ujar wanita berkerudung ini.Dimata keluarganya, Mutia dikenal sebagai anak yang kuat dan tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya. "Dia selalu bilang tidak sakit dan tidak mau mengaku. Padahal, saya yakin betul dan tahu Mutia merasakan sakit," kata Pratiwi."Seperti saat di RS Medistra, seharusnya Mutia masih dirawat tetapi bersikeras untuk pulang. Saya dan ayahnya sebenarnya tidak setuju. Tetapi karena itu kemauan Mutia, jadi kita bawa pulang karena dia ingin ketemu orang rumah dan dirawat di rumah," demikian Pratiwi.Mutia korban bom Kedubes Australia meninggal dalam keadaan koma di RS Mount Elizabeth pada Minggu 24 Oktober 2004. Otopsi dilakukan 25 Oktober 2004 pukul 08.00 waktu setempat.Ketika bom meledak di Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, Mutia sedang menumpang bus Kopaja ke arah Menteng. Sekujur tubuh Mutia terluka akibat terkena pecahan kaca. Dia sempat dioperasi bagian matanya sewaktu dirawat di RS Mata Aini.
(aan/)











































