Ibu Mutia Sesalkan Salah Diagnosa di RS Medistra
Senin, 25 Okt 2004 13:17 WIB
Jakarta -
Keluarga menyesalkan salah diagnosa di RS Medistra terhadap Mutia Rahmani Amalia (16), korban bom Kedubes Australia 9 September 2004. Mutia kemudian meninggal di RS Mount Elizabeth Singapura pada 24 Oktober 2004 pukul 12.00 waktu setempat.Ibu Mutia, Sulisita Pratiwi (42) mengaku pihaknya belum berencana untuk menuntut RS Medistra yang berlokasi di jalan Gatot Soebroto Jakarta Pusat itu karena diduga ada salah diagnosa. Dirinya hanya ingin kejadian tersebut menjadi pelajaran untuk rumah sakit lain di Indonesia."Kalau soal menuntut, saya nggak tahu. Kalau saya pribadi tidak perlu, biar ini jadi pelajaran saja biar lebih baik. Tapi kalau suami saya, saya belum tahu karena belum ketemu. Tapi dia lebih emosional," kata Sulisita saat ditemui wartawan di rumah duka jalan Anggrek IV/21 Karet Kuningan Jakarta Selatan, Senin (25/10/2004).Dia menerangkan beberapa hal ganjil yang dialaminya selama anaknya dirawat di RS Medistra. "Di Medistra tidak ada koordinasi antara dokter. Anak saya ditangani dokter syaraf, bedah syaraf, penyakit dalam, psikiater dan lain-lain. Tapi ucapan dokter yang satu dengan dokter yang lain berbeda-beda. Tubuh Mutia sempat 2 minggu dibiarkan panas, suhu badannya mencapai 41 derajat celcius," tuturnya."Mengenai penanganan, entah saya yang kurang pengetahuan, tapi saat periksa darah waktu itu, yang saya heran, untuk setiap hal harus diambil darahnya. Padahal seharusnya dengan sekali periksa darah saja, sudah bisa ketahuan hasil-hasil yang lain. Bahkan saat akan diperiksa darah lagi untuk kesekian kalinya sempat saya tolak," kata Sulisita dengan mata sembab.Saat pulang dari RS Medistra, lanjut dia, sebenarnya adalah kemauan Mutia. "Saya dan ayahnya sebenarnya tidak setuju, tapi karena kemauan dia ingin dirawat di rumah dan ingin ketemu orang rumah, jadi akhirnya kita bawa pulang," kenangnya.Menurut Sulisita, Mutia pernah dibawa olehnya untuk periksa darah di tempat lain, ternyata diketahui kadar HB (hemoglobin) rendah. Padahal setiap periksa darah di RS Medistra tidak disebutkan sama sekali mengenai HB Mutia yang rendah tersebut."Saat di RS Mount Elizabeth, diketahui kaki kiri Mutia bengkak dan ada retak akibat ledakan. Sebenarnya itu infeksi, tapi didiamkan saja karena pada awalnya tidak kelihatan," tuturnya.Mutia meninggal dalam keadaan koma di RS Mount Elizabeth pada 24 Oktober 2004. Otopsi dilakukan 25 Oktober 2004 pukul 08.00 waktu setempat.Ketika bom meledak di Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, Mutia sedang menumpang bus Kopaja ke arah Menteng. Sekujur tubuh Mutia terluka akibat terkena pecahan kaca. Dia sempat dioperasi bagian matanya sewaktu dirawat di RS Mata Aini.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































