Gus Dur Datang, Tembok Penghalang Sang Timur Dirobohkan
Senin, 25 Okt 2004 13:03 WIB
Jakarta - Kisruh bernuansa agama di Yayasan Pendidikan Karya Sang Timur di Karang Tengah, Ciledug, Tangerang, mendorong Gus Dur bertandang ke tempat itu. Uniknya, ketika tiba di lokasi, tembok penghalang yang belakangan ini membuat proses belajar mengajar sekolah Katolik itu terhambat, telah dirobohkan aparat."Mungkin karena tahu Bapak akan datang tembok itu sudah dirobohkan aparat sejak pagi," kata Zanuba Arifah Chafsoh Rahman alias Yeni, salah satu putri Gus Dur, yang turut meninjau Sang Timur, Senin (25/10/2004) pada detikcom per telepon. Dalam kunjungan itu, Gus Dur juga ditemani aktivis Seto Mulyadi. Kunjungan dimulai 10.00 WI dan berakhir 2 jam kemudian.Dalam kunjungan itu, Gus Dur melakukan dialog dengan pengelola yayasan, orangtua murid, dan warga sekitar. Sebagian ibu-ibu yang merupakan orangtua murid, menangis saat bercerita kepada Gus Dur bahwa anak-anaknya trauma karena sekolah itu didemo terus oleh sekelompok massa.Gus Dur pada kesempatan itu meminta warga agar tidak melakukan tindakan anarkis bila keberatan dengan kegiatan Yayasan Sang Timur. "Memblokir jalan tidak dibenarkan karena jalan itu adalah tanah adalah milik negara. Tak ada yang berhak memblokirnya dengan mengklaim itu milik mereka," kata Gus Dur yang datang berkat undangan aktivis lintas agama ini.Warga diminta memberi akses untuk sekolah bagi anak-anak. "Hak anak-anak menuntut ilmu harus dihormati. Kalau misalnya masih keberatan dengan masalah itu, harus dilakukan upaya dialog," sambung mantan presiden ini. Gus Dur juga meminta Walikota Tangerang memberikan izin membangun tempat ibadah. Alasannya, permintaan izin tersebut sudah diajukan sejak 12 tahun lalu. Sekadar diketahui, pada 19 Oktober lalu, perwakilan yayasan juga telah menemui Gus Dur di PBNU guna melaporkan hal itu. Peristiwa ini dipicu ketika awal Oktober lalu sekelompok massa mendatangi Sang Timur. Mereka meminta pengurus yayasan untuk menghentikan aktivitasnya. Bahkan setelah itu massa membangun tembok yang menutup jalan masuk ke lembaga tersebut.Aksi massa tersebut mendapat dukungan masyarakat sekitar karena mereka menilai izin Sang Timur adalah sebagai lembaga pendidikan, bukan tempat ibadah.
(nrl/)











































