Pengamat: PBB Harus Usut Kekerasan di Mesir

Pengamat: PBB Harus Usut Kekerasan di Mesir

- detikNews
Rabu, 10 Jul 2013 16:00 WIB
Pengamat: PBB Harus Usut Kekerasan di Mesir
Jakarta - Pasca kudeta yang dilakukan oleh militer Mesir terhadap Presiden Mohammad Morsi, kekerasan antar pendukung dan penentang, serta militer Mesir terus terjadi. Situasi ini semakin membuat Mesir mencekam. PBB sebaiknya mengusut kekerasan di Mesir.

"Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) harus turun tangan. Jika tidak, dikhawatirkan kekerasan akan semakin luas dan berlangsung dalam waktu yang lama," ujar Direktur Pusat Kajian Timur Tengah & Dunia Islam (PKTTDI) Universitas Muhammadiyah Jakarta, Hery Sucipto kepada detikcom Rabu (10/7/2013).

Menyusul kekerasan yang dilakukan militer terhadap para pendukung Morsi di luar istana kepresidenan beberapa waktu lalu yang menewaskan lebih 35 orang itu, Hery meminta PBB mengusut dan menginvestigasi pembunuhan tersebut. "Aparat adalah alat negara, bukan alat kekuasaan dan penguasa. Karena itu, apa pun alasannya, tindakan militer itu harus dikutuk dan harus diminta pertanggungjawaban," lanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut fungsionaris Dewan Masjid Indonesia ini, militer Mesir harus bisa menahan diri. Di tengah situasi politik yang terus memanas dan memakan korban itu, militer Mesir seharusnya menjadi mediator yang baik dengan mencegah terjadinya aksi kekerasan.

"Sangat disayangkan, justru militer ikut bermain. Ini akan jadi preseden buruk bagi kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Jika setiap aksi menentang rezim yang disokong militer diberangus, maka berbahaya bagi masa depan Mesir sebagai bangsa dan negara. Bahkan, eksistensi negara itu bisa tamat. Ini harus dihindari," jelas Hery.

Ia berharap, pemerintah RI bersikap tegas dan membantu pemerintah Mesir memulihkan kondisi di negeri itu. "Jangan takut dicap intervensi, karena bagaimana pun Indonesia punya kepentingan besar, setidaknya di sana ada lebih 6000 WNI, yang kebanyakan mahasiswa. Jadi, Indonesia jelas sangat berkepentingan," pungkasnya.

(asy/asy)


Berita Terkait