"Penadahnya ada di sebuah mall di Surabaya, kita sudah ketahui identitasnya. Jadi setiap habis main, dia jual barang-barang korban ke Surabaya," kata Kasubdit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/7/2013).
Sementara itu, Jhon mengaku menjual barang hasil rampokan itu ke Surabaya agar tidak mudah terlacak polisi. "Lagipula, saya sudah kenal sama engkoh (penadah-red) ini. Kalau di Jakarta saya tidak ada orang kenal," kata Jhon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Macam BlackBerry Porsche, Z10, Q10 itu dihargai Rp 4 juta. Kalau perhiasan-perhiasan yang kata korban harganya Rp 150 juta, sama engkoh-nya dihargai Rp 8 juta," jelas Jhon.
Untuk menghilangkan jejak, selain menjual barang hasil rampokan di Surabaya, Jhon juga mencabut semua memory card dan SIM card milik korban-korbannya.
"Sebagian kartunya saya patah-patahin, sebagian saya simpan saja tapi tidak saya gunakan kartu-kartunya itu," ujar Jhon.
Jhon mengaku, sudah menjual 4 unit telepon genggam. Total uang yang ia dapat untuk sekali aksi bisa mencapai Rp 16 juta.
"Ya uangnya habis dipakai untuk bayar pesawat ongkos ke Jakarta lagi dan buat menginap di hotel," tutup Jhon.
(mei/lh)











































