Markas LDII di Kabupaten Buru Dihancurkan Warga
Senin, 25 Okt 2004 10:30 WIB
Ambon - Markas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang berlokasi di desa Mako Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, dihancurkan warga setempat. Kini, kasusnya tengah ditangani polisi. Penghancuran terjadi pada Minggu (24/10/2004) malam. Menurut Kapolres Persiapan Kabupaten Buru, Kompol H.Y. Soerharmanto, SH, pengrusakan dan penghancuran markas LDII dipicu, karena warga setempat memandang bahwa tempat tersebut mengajarkan aliran sesat. "Jadi warga di Mako itu tidak senang melihat aktivitas sekelompok orang di sebuah rumah yang dijadikan markas LDII untuk melakukan ajaran-ajaran tertentu. Mereka beranggapan bahwa itu ajaran sesat. Artinya melanggar ketentuan Islam yang sebenarnya," beber Kapolres saat dihubungi Senin (25/10/2004). Selain markas, warga juga merusak sejumlah peralatan ibadah dan barang-barang yang berada di dalam rumah tersebut. Aksi pengrusakan tempat itu sempat mendapat perlawanan dari pemilik rumah serta sejumlah orang penganut aliran tersebut. "Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya sejumlah barang yang dirusaki warga," kata Kapolres.Terkait kasus ini, kata Kapolres, dua warga sedang menjalani pemeriksaan atas kejadian penghancuran tempat tersebut. Dalam aksi tersebut, kata Kapolres, nyaris terjadi bentrok antar anggota kepolisian dengan sejumlah warga yang ingin melakukan tindak kekerasan terhadap sejumlah orang yang mengikuti aliran tersebut. Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Buru, Muhammad Waikabu kepada detikcom meminta pihak Kepolisian untuk tanggap melihat persoalan. "Kami minta polisi tanggap lihat persoalan," pintanya.Dirinya juga mendesak agar kepolisian menyelidiki aliran yang dibawa maupun diajarkan oleh orang-orang tertentu kepada warga. Hal ini mencegah agar tidak ada aliran sesat yang diajarkan. "Ini bukan tudingan, tapi sebuah keikhtiaran, jangan sampai benar terjadi," kata dia.Selain itu, dirinya juga mengharapkan agar aktivitas yang meresahkan warga mesti diantisipasi pihak kepolisian maupun jajaran kantor departemen agama Kabupaten Buru. "Jangan sampai bentrok lagi. Apalagi jatuh korban jiwa. Ini yang tidak kita harapkan," ujarnya.
(asy/)











































