Pantauan detikcom Selasa (9/7/2013) beberapa kambing itu dipelihara di luar tembok SMPN 289, dibatasi pagar bambu dan parit kecil. Di dekatnya ada rumah bertembok batako. Kemudian ada pula tempat berteduh yang dibangun dari tiang-tiang bambu dengan ditutup terpal yang sudah robek-robek.
Di luar pagar itu memang ada lahan kosong luas yang ditumbuhi rerumputan. Kambing-kambing itu biasa di lepas di rerumputan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkadang, kambing itu memakan rumput liar di dalam halaman SMPN 289 itu melalui akses yang dipasangi kayu-kayu. Tak heran bau tahi kambing semerbak menyengat hidung.

Tak ada tukang kebun yang merawat dan menjaga sekolah ini. Orang suruhan Ketua RW 05 Haji Gubar tampak menjaga blokade akses jalan ke sekolah tersebut sehingga sekolah tak dapat beroperasi.
Punya siapa kambing-kambing itu?
Sejumlah warga yang sempat ditemui detikcom di sekitar kawasan sekolah menyebut, kambing itu di bawah penguasaan Gubar, Ketua RW 03 Sukapura. Sang centeng yang menjaga akses jalan, hanya memberi izin bila sudah disetujui sang Ketua RW.
Namun, saat dikonfirmasi, Gubar membantah keras. Dia tidak merasa memiliki kambing-kambing yang membuat sekolah baru nan mahal itu jadi bau tak sedap.
"Punya warga," katanya singkat saat ditemui di kediamannya di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (9/7/2013).
(nwk/nrl)










































