Penyelidikan Epidemologi Antraks Masih Berlangsung
Minggu, 24 Okt 2004 15:02 WIB
Jakarta - Tim khusus yang dibuat oleh Departemen Kesehatan (Depkes) masih terus melakukan penyelidikan epidemologi penyakit Antraks di Desa Citaringgul RT 01/04, Kec. Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Hari ini merupakan hari terakhir. "Kemungkinan penyelidikan selesai hari ini. Setelah itu, Litbang akan mengembangkan penyelidikan epidomologi itu. Hasilnya nanti akan dipublikasikan," kata Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Bersumber Binatang Depkes dr Rosmini saat dihubungi detikcom, Minggu (24/10/2004).Menurut Rosmini, selama ini tim telah mencari siapa saja warga yang memakan jeroan dan daging kambing yang sudah dipastikan terjangkit penyakit Antraks itu. Hasilnya, ada sekitar 60 orang yang menikmati daging itu. "Dari 60 orang itu, enam orang meninggal dunia dan 20 orang telah dirujuk ke RS," kata Rosmini. Semula, ada seorang anak kecil yang meninggal dunia, namun rumahnya agak jauh dari lokasi pemilik kambing itu, sehingga sempat diduga anak kecil itu meninggal karena penyakit biasa. "Tapi, setelah dicek, ternyata anak kecil itu makan nasi goreng yang dibuat dengan lemak kambing itu," kata dia. Sementara, warga yang memakan daging kambing dan tidak memperlihatkan gejala Antraks, sudah diberi antibiotik. "Penangannya memang tidak sulit, hanya dikasih antibiotik bisa sembuh. Korban sampai bisa meninggal dunia itu lebih karena terlambat dibawa ke RS. Soalnya, pembiakan spora di tubuh manusia sangat cepat, hanya dua hari. Jika terlambat ditangani, fatal akibatnya," ungkapnya. Menurut Rosmini, tim khusus juga sudah memeriksa lemak kambing dan juga sampel tanah di lokasi penyembelihan kambing itu. "Hasilnya, memang positif Antraks. Serum darah pasien di RSU Cibinong juga sudah diperiksa, dan hasilnya positif," ungkapnya. Rosmini menjelaskan, penyakit Antraks terdiri dari tiga jenis, yaitu Antraks kulit, Antraks pencernaan, dan Antraks paru-paru. Antraks paru-paru, dimungkinkan bisa tertular dari manusia ke manusia lewat udara. Tapi, kata Rosmini, hasil penyelidikan dan juga pemeriksaan pasien di RSU Cibinong, tidak ada pasien yang mengalami penyakit Antraks paru-paru. "Hampir semua pasien terkena Antraks pencernaan," kata Rosmini. Para pasien ini sebelumnya mengalami sakit perut yang hebat, mual, muntah, muntah darah, dan berak darah.
(asy/)











































