Cegah Antraks, Penyembelihan Hewan Harus Lebih Diawasi

Cegah Antraks, Penyembelihan Hewan Harus Lebih Diawasi

- detikNews
Minggu, 24 Okt 2004 12:18 WIB
Jakarta - Penanggulangan menularnya penyakit Antraks, seperti yang terjadi di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, sangat sulit. Untuk mencegah penularannya, pengawasan penyembelihan hewan harus ditingkatkan. Hal ini disampaikan Direktur Kesehatan dan Masalah Veteriner Departemen Pertanian Bahtiar Merad saat berbincang-bincang dengan detikcom, Minggu (24/10/2004). Menurut Bahtiar, kurangnya pengawasan inilah yang membuat kasus antraks di Bogor selalu berulang-ulang. Pengawasan kurang, karena memang petugas-petugas di lapangan, termasuk penyuluh, masih sangat minim. Bila memang kuman penyakit Antraks sudah menjadi spora dan menyebar ke tanah dan rumput, maka akan sulit memberantasnya. Tidak mudah untuk mengecek satu per satu hewan ternak untuk mengecek apakah hewan itu terkena Antraks atau tidak. "Kalau spora sudah berada di tanah, akan segera menyebar. Kita tidak bisa menanggulangi dan mencari penyebaran spora itu. Kalau boleh saya sebut, mendeteksi spora Antraks itu lebih sulit dibanding mencari teroris," kata dia. Karena itu, salah satu cara penanggulangan Antraks adalah dengan mengawasi penyembelihan hewan ternak, terutama di daerah endemik. "Pemotongan hewan di daerah endemik harus mengikuti persyaratan minimun Hygienis Sanitasi. Karena itu, pengawasan harus ditingkatkan. Petugas di lapangan harus ditambah, karena sekarang jumlahnya sangat minim. Perhatian di daerah endemik, seperti Bogor dan Purwakarta, harus diperlakukan lebih dari biasa," kata dia. Menurut Bahtiar, sebenarnya Departemen Pertanian (Deptan) telah memiliki kebijakan secara nasional terhadap berbagai macam penyakit hewan, termasuk Antraks. Penyakit ini termasuk yang harus dilaporkan kepada pemerintah. Di dalam UU, masyarakat juga diminta melaporkan adanya penyakit ini ke pemerintah. Namun, masyarakat saat ini kurang berperan, karena untuk mengetahui gejala-gejala antraks tidaklah mudah. Penyakit Antraks ini merupakan penyakit berbahaya, karena termasuk zoonosis, bisa pindah ke manusia. Dan ini selalu terjadi berulang-ulang di daerah endemik, seperti Kabupaten Bogor. Penyakit ini tidak bisa diberantas ke titik nol, karena memang sulit diberantas. Kuman penyakit ini bisa membentuk spora dan bisa tinggal di tanah sampai 20 tahun. "Artinya, selama spora masih utuh, dia bisa berpotensi sewaktu-waktu pecah dan menyebar. Di saat transisi dari kemarau ke musim penghujan, spora ini akan banyak terjadi. Spora akan tergerus air hujan, naik ke tanah dan pecah lagi, akan menyebar ke hewan-hewan," kata Bahtiar. Karena itu, menurut Bahtiar, Deptan sudah memberi prioritas bahwa keberadaan petugas-petugas kesehatan masyarakat veteriner sangat penting bagi dinas-dinas peternakan di daerah. Selama ini, dinas-dinas hanya lebih banyak memperhatikan vaksinasi pada hewan, sedangkan pengawasan penyembelihan hewan terabaikan. "Agar Antraks bisa ditanggulangi, sebelum disembelih, hewan harus diperiksa betul. Masyarakat tidak boleh sembarangan untuk menyembelih hewa. Di daerah endemik, penyembelihan hewan ternak yang demam, harus dilarang," kata dia. Bila sampai ada warga yang menyembelih hewan yang terkena Antraks, maka penanggulangannya sudah sangat sulit. Begitu darah keluar dari hewan disembelih, maka darah-darah mengadung kuman akan meresap ke tanah dan rumput. Kuman akan segera berubah menjadi spora yang tahan terhadap cuaca. Kalau sudah begini, maka spora Antraks akan terus menyebar. Dan tampaknya inilah yang terjadi di Desa Citaringgul RT 01/04, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kambing yang sedang sakit disembelih seorang warga dan dibagi-bagikan kepada warga lainnya. Kambing itu ternyata berpenyakit Antraks. Selain mengakibatkan korban berjatuhan pada orang-orang yang memakan daging kambing itu, spora Antraks juga akan makin menyebar di daerah itu. Akibat kejadian ini, dilaporkan sudah enam orang meninggal dunia dan sejumlah orang warga desa itu dirawat di RSU Cibinong. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads