"Publik menilai tidak banyak elite atau politisi yang bisa dijadikan teladan bagi masyarakat," kata peneliti LSI, Rully Akbar, di gedung LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (7/7/2013).
Tidak hanya itu, Rully menilai berdasarkan penelitian kualitatifnya semakin kuat persepsi publik terkait banyak politisi yang hipokrit. Artinya, elite politik tidak sejalan dengan ucapannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak banyak politisi yang jadi teladan ditunjukkan dengan 52,10 persen responden yang menjawab. Sementara itu yang beranggapan politisi masih bisa dijadikan teladan hanya 47,10 persen.
Lalu untuk elite politik yang cenderung hipokrit dinyatakan dengan 65,30 persen suara responden. Namun tidak berbeda jauh untuk komitmen elite politik terhadap klaim ajaran agama dan perilaku, hanya 36,5 persen yang menyatakan banyak politisi bertentangan dengan ajaran agama.
"Dan 37,5 persen menyatakan lebih banyak politisi yang bertindak sesuai ajaran agama," ujar Rully yang menganggap angka tersebut rendah.
Riset moralitas publik dilakukan pada tanggal 3-5 Juli 2013 dengan 1.200 responden dari 33 provinsi. Metode yang digunakan adalah quick poll dilengkapi dengan penelitian kualitatif, FGD, serta in depth interview.
Survei dengan margin of error 2,9 persen itu menyatakan 51,5 persen masyarakat tidak percaya komitmen elit politik untuk melakukan hal-hal yang baik dalam kebijakan dan perilaku.
Hanya 37,5 persen publik yang menyatakan mereka percaya dengan komitmen moralitas publik para elite politik.
(vid/fjp)










































