Kabinet SBY, Kompromi Politik dan Salah Kamar
Sabtu, 23 Okt 2004 16:07 WIB
Jakarta - Aburizal Bakrie alias Ical dinilai tidak terlalu tepat menjabat sebagai Menteri Perekonomian. Hal itu terbukti dari buruknya kondisi perusahaan yang dikelola Ical.Demikian disampaikan pengamata ekonomi, Faisal Basri dalam diskusi "Komposisi dan Kemampuan Kabinet Baru" di Mario's Place, Jakarta, Sabtu (22/10/2004). Hadir juga sebagai pembicara, pengamat ekonomi Faisal Basri, praktisi hukum Bambang Widjojanto dan budayawan Garin Nugroho."Perusahaan Bakrie tidak cukup tangguh dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi tahun 1997. Saya melihatnya kurang pas. Menjadikan Aburizal sebagai Menko Perekonomian sama saja dengan memelihara macan bagi pemerintahan SBY, karena tahun 2009 dia akan maju sebagai capres," kata Faisal.Meski demikian, Faisal mengakui, tim ekonomi SBY secara umum tidak kontroversial. Pasar, kata dia, juga cukup tenang menyikapi tim tersebut.Sementara Bambang Widjojanto menilai, komposisi kabinet baru merupakan bagian dari kompromi politik. Menurut Bambang, akibatnya banyak menteri tidak memiliki program yang jelas."Jadi ketika menyusun kabinet, calonnya yang sudah ada baru penempatan posnya belakangan. Akibatnya bukan calon yang punya program yang dipilih jadi menteri, melainkan program belum jelas tapi orangnya sudah masuk bursa,"paparnya.Hal yang sama juga diutarakan, budayawan Garin Nugroho. Garin lebih suka mengatakan apa yang terjadi di kabinet SBY dengan istilah 'salah kamar'. Hal itu disebabkan kompetensi sang menteri yang dinilai kurang relevan dengan pos yang didudukinya."Ada 12 menteri yang saya lihat 'salah kamar' karena kemampuannya dipertanyakan. Misalnya Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo yang lebih dikenal menguasai bidang finansial," tutur Garin.
(djo/)











































