Setelah dicopot dari Ketua Bappilu Partai Hanura, Yuddy Chrisnandi seperti masuk barisan kecewa. Meskipun ia mengaku ikhlas kehilangan posisinya karena merasa tak punya modal sebesar Hary Tanoe, tapi Yuddy bersuara keras bahwa duet Wiranto-HT masih bisa dievaluasi.
"Butuh pengesahan lewat mekanisme (resmi). Rapimnas ini sekurang-kurangnya satu kali dalam satu periode. Pengesahannya bisa di forum Rapimnas, bisa dikukuhkan bisa juga dikoreksi," kaya Yuddy, Rabu (3/7) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mendukung ya iya dong, kalau Pak Wiranto mau masa kita halangi. Tapi apakah menyetujui? Itu beda lagi karena harus sesuai mekanisme," katanya.
Yuddy juga tak segan membela koleganya di Hanura, Fuad Bawazier. Fuad adalah yang paling keras menyerukan bahwa duet Wiranto-HT tidak sah.
"Yang disampaikan Pak Fuad itu memang sesuai konstitusi partai. Di dalam konstitusi, untuk kepentingan strategis seperti Pilkada, capres dan cawapres harus melalui Rapimnas," ujar Yuddy membela.
Di sisi lain sejumlah pengurus Hanura yang pro deklarasi Wiranto-HT membela mati-matian. Mereka menegaskan bahwa deklarasi telah final. Mereka pun menegaskan seolah tidak ada konflik internal di Hanura.
"Saya tegaskan, tidak ada friksi di internal Hanura. Dari DPP, DPD sampai DPC solid mendukung pencalonan Bapak Wiranto berpasangan dengan Bapak Hary Tanoe sebagai capres dan cawapres yang diusung oleh Partai Hanura. Dan ini sudah final. Jadi kalau pun ada satu dua suara berbeda, itu hanya dinamika internal saja," tegas Ketua Fraksi Hanura di DPR Syarifudin Sudding dalam siaran pers, Kamis (4/7/2013).
Lalu bagaimana prospek duet Wiranto-HT? Mampukah Hanura menyelesaikan konflik internal mereka dengan mengukuhkan duet Wiranto-HT di Rapimnas, ataukah duet ini akan kandas di tengah jalan? Yang pasti, tantangan Hanura jauh lebih besar yakni mengejar Presidential Threshold 20% untuk mengusung duet capres ini, jalan yang tak mudah bagi Hanura yang masih terpuruk di sejumlah survei terakhir.
(van/nrl)











































