Kepala PVMBG, Surono mengatakan, pada Selasa (2/7) hingga pukul 23.00 WIB, terekam 64 kali gempa vulkanik dangkal dan 92 gempa tektonik.
"Jika jumlah kegempaan vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal terus meningkat, aktivitasnya akan ditingkatkan dari normal menjadi status waspada," ujar Surono lewat pesan singkatnya kepada detikcom, Rabu (3/7/2013).
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, kondisi gunung merapi aktif tersebut tetap normal pasca gempa bumi 6,2 SR di Aceh. Warga pun diimbau untuk tidak panik.
"Kondisi gunung normal, tidak ada pengaruh terhadap gempa. Warga diharapkan tenang," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Gempa berkekuatan 6,2 SR yang mengguncang bumi Aceh terjadi pada Selasa (2/7) siang. Gempa tersebut berpusat di 35 km dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dengan kedalaman 10 km.
Pakar gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaja menganalisa bahwa gempa itu terjadi karena pergeseran Patahan Sumatera atau Semangko. Ada 2 patahan besar yang sejajar memanjang di Pulau Sumatera.
Patahan pertama adalah Zona Subduksi yang memanjang di laut Samudera Hindia sepanjang bagian barat Sumatera. Pergeseran Zona Subduksi ini yang menyebabkan gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004.
"Yang jelas secara umum gempa itu bukan hal yang istimewa. Di situ sudah ratusan tahun nggak ada gempa besar, skala gempanya sekitar 6 SR. Apakah memang tipikalnya begitu atau energinya belum keluar ya belum tahu," kata Danny yang meneliti mengenai Patahan Sumatera dan Zona Subduksi ini.
(jor/nwk)











































