"Bukan saya yang punya usaha ini, tapi mertua saya. Saya generasi kedua nerusin beliau," jelas Arminah (51) yang ditemui di kandang sapi miliknya, Selasa (2/7/2013).
Mertuanya sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sang mertua mengelola bisnis sapi perah sejak tahun 1950-an. Kini di tangan Arminah sapi perah sudah menjadi 15 ekor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bertutur, dahulu sebelum gedung-gedung itu dibangun, di kawasan Mega Kuningan banyak terdapat kandang sapi perah. Seiring waktu berjalan, mereka 'menyerah' dengan tawaran untuk menjual tanah yang mencapai belasan juta permeternya.
"Ada yang pindah ke Pondok Rangon, Jagakarsa, Kebagusan, sampai Depok sono," jelasnya dengan logat Betawi yang kental.
Untuk urusan pakan ternak sapi perah yang diperah pagi dan sore, juga bukan urusan mudah. Untuk rumput dia biasa mengupah orang mencari rumput di lahan kosong di Jakarta. Agar susu sapi banyak dia tambah dengan ampas tahu dan dedek.
"Yang repot cuma soal kotoran dan kalau banjir," tegasnya dengan senyum.
(ndr/ndr)











































