Parasnya yang cantik membuat seorang sahabatnya membujuk Novi berani tampil bergaya di depan kamera. Itu terjadi saat usianya belum genap 15 tahun di kampung halamannya, Medan.
Padahal Novi merasa dirinya tak terlalu menarik, dan tinggi badannya kurang ideal untuk menjadi seorang model. “Tapi dia bilang aku bisa. Aku coba deh, ternyata aku terpilih,” ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu itu kamu langsung bersedia?
Aku enggak percaya diri dan enggak punya skill. Tapi, dia bilang aku pasti bisa karena sebetulnya punya kepercayaan diri untuk tampil di depan kamera. Aku memang dari kecil enggak bisa diam. Kalau ada orang ramai suka naik-naik ke meja dan nyanyi-nyanyi sendiri, he-he-he…. Ya, sudah, ke Jakarta, ditawari untuk difoto dan diterima di suatu majalah.
Langsung majalah dewasa?
Aku ikut audisi Wajah Sensual di suatu majalah, diterima dan menang. Kalau enggak salah di ME (Male Emporium) pada 2005 atau 2007. Setelah menang jadi The Best Cover majalah Popular, aku ditawari nyanyi dangdut.
Oh, pernah nyanyi juga?
Iya, itu 2008-2009. Judul single-nya Bokong Semok dan Bang Joni. Ceritanya tentang pasangan yang berpacaran dan jarang ketemu. Siang-malem main kucing-kucingan. Ya, begitu deh lagunya.
Honor sebagai model berapa sih?
Pokoknya foto aku yang jadi model di toko-toko itu enggak dikasih honor. Baru dapat honor yang wajar itu ya pas di Jakarta. Waktu di ME itu semula aku dikasih Rp 750 ribu. Katanya sih standarnya segitu buat pendatang. Malah, kalau yang lain bayar, tapi aku sudah dibayar.
Apa sih daya tarik kamu sampai bisa jadi cover majalah?
Katanya sih aku anaknya masih polos dan “berlian yang belum diasah”. Menurut mereka sih aku lucu. Kalau enggak salah itu pas umurku 16 tahun.
(nrl/nrl)











































