Empang Tempat Azhari Tewas: Dari Lubang hingga Rawa 'Berpenunggu'

Empang Tempat Azhari Tewas: Dari Lubang hingga Rawa 'Berpenunggu'

Taufan Noor Ismailian - detikNews
Minggu, 30 Jun 2013 13:40 WIB
Empang Tempat Azhari Tewas: Dari Lubang hingga Rawa Berpenunggu
(Foto: Taufan Noor Ismailian/detikcom)
Jakarta - Empang yang diperkirakan berkedalaman 3 meter yang membuat Azhari (17) tenggelam di Jl Rajiman Widyodiningrat RT 06 RW 11, Kampung Pengarengan, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, itu awalnya adalah lubang tanah besar. Lama-lama lubang itu menjadi rawa berlumpur yang diyakini ada 'penunggunya'.

Menurut sesepuh di RT 06 itu, Hajah Marhani (70), yang menghuni kampung itu sejak lahir, sudah ada beberapa orang yang meninggal di rawa itu. Marhani mengatakan di empang itu diyakini ada 'penunggunya'.

"Kalau meninggal gara-gara rawa ada 4 orang, yang tenggelam cuma 1 yang semalam aja. Yang 3 itu yang 'penunggu'nya, sering mancing ngambil ikan, setelah ambil ikan, dia makan ikan, dibakar, diambil, dikembalikan lagi ikannya, setelah itu orangnya mati," kata Marhani yang ditemui di rumahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kejadian terakhir ada orang yang meninggal di empang, sudah lama sekitar tahun 1950-an. Perihal 'penunggu' di empang itu, Marhani mendapatkan cerita lisan dari neneknya sekitar 50-an tahun lalu, saat dirinya masih gadis.

"Empang itu ada penunggunya, saat itu ada 2 orang yang meninggal, mancing ambil ikan di sana, terus mati," tutur dia.

Empang itu awalnya hanya lubang tanah besar. Bila musim kemarau, lubang itu kering dan banjir bila musim hujan. Lama-lama lubang itu menjadi empang, kemudian setelah menjadi empang dan ada warga yang meninggal usai memancing di empang, akhirnya warga mencemplungkan ikan mujair dan lele.

"Enceng gondok sama lumpur itu dulunya nggak ada. Enceng gondok itu memang ada orang yang menanam, kalau soal lumpur itu gara-gara banyak tumpukan sampah, tiap hujan banjir dan akhirnya turun menjadi lumpur," imbuhnya.

Ikan-ikan di empang lama-lama habis dan empang itu menjadi tempat buang hajat warga. Sebagian ada yang diuruk untuk dijadikan rumah oleh para pendatang baru.

Di malam hari, empang dan sekitarnya memang gelap. Orang yang tak mengenal daerah ini bisa saja tak tahu di situ ada empang berlumpur.

"Mungkin gini kalau korban semalam meninggal kalau malam di sini gelap banget, lampu-lampu di sini dikit. Apalagi di empang itu nggak ada lampu jadi dari jalan raya. Mungkin mereka masuk ke kampung sini, terus mereka lari, empang itu dikira seperti lapangan atau taman kan ada enceng gondoknya," tutur dia.

Mengenai tawuran remaja, Marhani mengatakan di kampung itu sering terjadi. Terutama di malam Minggu.

"Di sini sudah biasa itu tawuran, setiap malam Minggu di bulan Juni ada tawuran. April-Mei nggak ada gara-gara awal April ada polisi yang razia. Juni ini ada lagi, biasanya remaja dari Pulo Jahe dengan daerah Buaran. Kebanyakan anak-anak SMA, SMP, STM, masih muda-muda yang tawuran," kata Marhani.

(nwk/nrl)


Berita Terkait