Menurut sesepuh di RT 06 itu, Hajah Marhani (70), yang menghuni kampung itu sejak lahir, sudah ada beberapa orang yang meninggal di rawa itu. Marhani mengatakan di empang itu diyakini ada 'penunggunya'.
"Kalau meninggal gara-gara rawa ada 4 orang, yang tenggelam cuma 1 yang semalam aja. Yang 3 itu yang 'penunggu'nya, sering mancing ngambil ikan, setelah ambil ikan, dia makan ikan, dibakar, diambil, dikembalikan lagi ikannya, setelah itu orangnya mati," kata Marhani yang ditemui di rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Empang itu ada penunggunya, saat itu ada 2 orang yang meninggal, mancing ambil ikan di sana, terus mati," tutur dia.
Empang itu awalnya hanya lubang tanah besar. Bila musim kemarau, lubang itu kering dan banjir bila musim hujan. Lama-lama lubang itu menjadi empang, kemudian setelah menjadi empang dan ada warga yang meninggal usai memancing di empang, akhirnya warga mencemplungkan ikan mujair dan lele.
"Enceng gondok sama lumpur itu dulunya nggak ada. Enceng gondok itu memang ada orang yang menanam, kalau soal lumpur itu gara-gara banyak tumpukan sampah, tiap hujan banjir dan akhirnya turun menjadi lumpur," imbuhnya.
Ikan-ikan di empang lama-lama habis dan empang itu menjadi tempat buang hajat warga. Sebagian ada yang diuruk untuk dijadikan rumah oleh para pendatang baru.
Di malam hari, empang dan sekitarnya memang gelap. Orang yang tak mengenal daerah ini bisa saja tak tahu di situ ada empang berlumpur.
"Mungkin gini kalau korban semalam meninggal kalau malam di sini gelap banget, lampu-lampu di sini dikit. Apalagi di empang itu nggak ada lampu jadi dari jalan raya. Mungkin mereka masuk ke kampung sini, terus mereka lari, empang itu dikira seperti lapangan atau taman kan ada enceng gondoknya," tutur dia.
Mengenai tawuran remaja, Marhani mengatakan di kampung itu sering terjadi. Terutama di malam Minggu.
"Di sini sudah biasa itu tawuran, setiap malam Minggu di bulan Juni ada tawuran. April-Mei nggak ada gara-gara awal April ada polisi yang razia. Juni ini ada lagi, biasanya remaja dari Pulo Jahe dengan daerah Buaran. Kebanyakan anak-anak SMA, SMP, STM, masih muda-muda yang tawuran," kata Marhani.
(nwk/nrl)










































