Warga Randusari Semarang Buka Paksa Mushola yang Digembok

Warga Randusari Semarang Buka Paksa Mushola yang Digembok

- detikNews
Sabtu, 29 Jun 2013 12:05 WIB
Warga Randusari Semarang Buka Paksa Mushola yang Digembok
Warga buka paksa mushola (Angling/ detikcom)
Semarang - Sekitar 200 warga Randusari pos 3 Semarang membuka paksa pintu Mushola Al Fatah dan menyingkirkan semua barang-barang yang berada di dalamnya. Mereka emosi karena sejak bulan Februari lalu tidak bisa beribadah di mushola tersebut.

Ketua RW 2 Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Sutego mengatakan Mushola dengan luas 116 m2 tersebut sebenarnya sudah diwakafkan oleh pemiliknya, Suparman yang meninggal tahun 2009 lalu. Kemudian bulan Februari 2013, Derman, suami dari keponakan Suparman menutup Mushola itu.

"Oleh keponakannya dicancel sertifikat wakafnya padahal saya sudah urus sejak 2009. Sebenarnya kami tidak butuh sertifikat, kami butuh tempat ibadah, tapi ternyata malah ditutup musholanya," kata Sutego di depan Mushola Al Fatah, Randusari, Semarang, Sabtu (29/6/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga sudah melakukan upaya audiensi dengan Derman dibantu LSM, namun menurut Sutego tidak ada itikad baik dari Derman. Awalnya warga masih bisa menerima jika hari-hari biasa mengerjakan ibadah di rumah, namun warga mulai emosi karena menjelang bulan Ramadan tidak ada tanda-tanda mushola akan dibuka.

"Sebelumnya sudah kirim surat lewat BPN, Kementerian Agama, dan dewan, tapi kok tidak ada respon. Akhirnya warga frontal karena menjelang ramadan. Kegiatan seperti Sholat Tarawih, tadarus, dan zakat sudah dilakukan warga saya sejak bertahun-tahun lalu di situ," tegasnya.

Warga yang emosi kemudian membuka paksa mushola tersebut sekitar pukul 09.00 WIB tadi. Karena pintu yang digembok dari dalam, seorang warga terpaksa masuk lewat atap dan menjebol gembok. Betapa terkejutnya warga ketika tempat yang dibangun sejak 1980-an itu sudah menyerupai gudang. Bahkan dua kotak amal besar yang semula masih ada isinya tidak berada di lokasi.

"Isinya itu lemari, piring, pokoknya semua perabotan Pak Haji Suparman yang tadinya ada di rumahnya di belakang Mushola. Dua kotak amal besar yang nempel digergaji," pungkas Sutego.

Saat warga menyingkirkan barang-barang itu, Derman yang menempati rumah Suparman sempat masuk melewati pintu belakang Mushola. Namun warga yang emosi mengejarnya dan dia berbalik. Warga kemudian menutup pintu belakang dengan lemari besar.

"Dia (Derman) tinggal di rumah Pak Haji sejak 2 tahun lalu. Tidak ada izin ke RT atau RW. Ini langkah terakhir kami," tegas pria yang juga ketua Takmir Mushola Al Fatah itu.

Saat ditemui di rumah Suparman, Derman mengaku keberatan atas tindakan warga. Menurutnya proses wakaf dilakukan sepihak karena dilakukan saat pemilik tidak sadar dan dia tidak dilibatkan.

"Menurut saya tidak benar karena saya tidak dilibatkan. Itu bukan milik umum, tapi milik keluarga," ujar Derman.

Warga kemudian bekerja bakti membersihkan mushola agar bisa kembali difungsikan. Pengeras suara dan kubah juga sudah terpasang di tempat semula. Saat ini adzan pun sudah kembali berkumandang sejak tidak lagi difungsikan empat bulan lalu.

"Untuk mengambil sertifikat wakaf katanya harus difungsikan dulu. Ini makanya kami fungsikan," kata Sutego.

(alg/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads