Masjid Achmad Djaketra dan Berbagai Peninggalan yang Hilang

Napak Tilas Jakarta (26) - Habis

Masjid Achmad Djaketra dan Berbagai Peninggalan yang Hilang

Rina Atriana - detikNews
Jumat, 28 Jun 2013 17:10 WIB
Masjid Achmad Djaketra dan Berbagai Peninggalan yang Hilang
(Foto: Rina Atriana/detikcom)
Jakarta - Masjid Jami' Assalafiyah termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta sejak tahun 1999. Masjid yang didirikan oleh Pangeran Achmad Djaketra yang dipercaya sebagai Pangeran Jayakarta pada awal abad ke-17 itu hingga kini masih tegak berdiri.




Menurut wartawan senior yang juga pemerhati sejarah, Alwi Shahab, dalam bukunya 'Betawi Queen of The East', masjid ini dulunya merupakan sebuah musala dibangun oleh Pangeran Ahmad Jaketra pada tahun 1620. Satu tahun setelah pangeran dan seluruh pengikutnya hijrah dari kawasan Jakarta Kota ke Jatinegara Kaum, karena keraton dan seluruh perumahan abdi dalam dan rakyat Jayakarta di Kota Tua dibumihanguskan VOC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Kepala pengurus Masjid Assalafiyah, Haji Suhendar, menjelaskan, setelah mengalami beberapa kali renovasi, banyak yang berbeda dari interior masjid bersejarah ini jika dibandingkan bentuk awalnya. Namun, empat tiang utama yang berada di bagian dalam masjid yang terbuat dari kayu jati masih dipertahankan keasliannya.



"Selain itu mimbarnya juga masih asli," ujar Suhendar.

Mimbar yang terbuat dari kayu itu memang masih terlihat kokoh dan diletakkan di dekat tempat imam memimpin salat. Mimbar setinggi kira-kira 1,5 meter itu masih sering digunakan untuk berkhotbah maupun ceramah dalam acara-acara keagamaan lainnya.




Tepat di belakang masjid ada kali yang kini airnya telah mengeruh. Padahal, menurut Suhendar, awalnya kali tersebut biasa dipakai masyarakat Jatinegara kaum untuk keperluan sehari-hari maupun untuk mencari ikan.

Sebelum akhirnya diberi nama Assalafiyah, awalnya masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Masjid Pangeran Jayakarta. Beberapa peninggalan pangeran Jayakarta awalnya terpajang di masjid bernuansa putih hijau itu, namun saat ini entah kemana.

"Awalnya ada tasbih yang diceritakan merupakan peninggalan pangeran Jayakarta. Tasbih itu dipajang di dinding dalam masjid. Tapi sekarang sudah tidak ada. Pengunjung di sini banyak sekali di waktu-waktu tertentu, bisa aja diambil orang, kan kita nggak selalu ngawasin," ujar Suhendar, saat ditemui di rumahnya, di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Jumat (21/6/2013).



Selain tasbih, ada pula sepasang tombak yang juga tak diketahui keberadaannya. Tombak tersebut bernama Giring Galih dan Giring Lanang. Giring Galih, menurut Suhendar berarti jantan di darat sedangkan Giring Lanang berarti jantan di laut. Tombak yang terbuat dari kayu aren tersebut memiliki panjang sekitar 1 meter.

"Peninggalan yang masih asli saat ini adalah mimbar, yang lainnya sudah tak diketahui keberadaannya," ungkapnya.

Suhendar menambahkan, Pangeran Jayakarta diceritakan semasa hidup kerap memakai jubah. Semacam gamis yang dipakai para ulama-ulama besar di timur tengah.

"Kita tidak tahu bagaimana jenis berpakaiannya, yang pasti pangeran Jayakarta sering menggunakan jubah. Karena kan selain dikenal sebagai pahlawan, beliau juga dikenal sebagai ulama," tambahnya.

(nwk/trw)


Berita Terkait