Salah satu kernet truk, Deri (16), memang tidak mengetahui pasti bagaimana 250 dinamit hilang. Ia hanya punya dugaan-dugaan. Di kantor polisi, ia menceritakan rute yang ditempuh dan insiden ban pecah.
Deri naik truk yang dikemudikan Suparman dan mengangkut 12,5 ton amonium nitrat. Sedangkan dinamit diangkut dengan truk yang dikemudikan Edi Junaedi. Total yang diangkut sebanyak 10 ribu batang dinamit seberat 2 ton milik PT BSP (Batu Sarana Perkasa), Cigudeg, Bogor.
2 Truk berangkat dari Subang, Jawa Barat menuju Cigudeg, Kabupaten Bogor pada Rabu (26/06/2013) sekitar pukul 14.00 WIB dan berhenti di gudang milik PT MNK, di kawasan Marunda, Jakarta Utara pada malam harinya. Selanjutnya, truk meluncur menuju Bogor bersama 2 truk lainnya yang mengangkut 25 ton amonium nitrat yang sudah menunggu lebih dulu di Marunda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah berhasil mengatasi ban pecah, 4 truk melanjutkan prejalanan ke Bogor melalui rute Cisauk, Legok dan Parung Panjang. "Pas di Legok, kami sering berhenti. Jalanannya rusak dan ada perbaikan. Jadi cuma satu jalur yang dipakai. Kalau mau lewat, kita harus antri. Makanya nunggunya lama," jelas Deri yang merupakan adik Edi Junaedi ini.
Ke-4 truk tiba digerbang PT BSP sekitar pukul 04.16 WIB dan menunggu gudang dibuka hingga pukul 04.30. Selanjutnya, pukul 06.30, Edi Junaedi memeriksa truk dan baru tahu kalau terpal bagian belakang di truk yang dikendarainya tersebut sobek. Saat itulah, 2 dus berisi 250 batang dinamit tersebut hilang.
Saat ini, Edi diperiksa polisi. Truk yang dikemudikannya diamankan.
(trw/trw)











































