"Saya nggak dapat, nggak ada yang datang ke rumah," lirih Sugito yang ditemui di rumahnya di RT 7/9, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (28/6/2013).
Bagi dia, berapapun besarnya dana Balsem amat dia tunggu. Tapi seperti mimpi, dana itu tak pernah mampir ke rumahnya. "Saya nggak ada HP, nggak ada kendaraan. TV juga yang lama, tuh lihat," jelasnya sambil menunjuk televisi di rumahnya.
Dia berkisah, 2 tahun lalu dia mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan hingga kini tak bisa bekerja, hanya berbaring di rumah. 3 Anaknya masih bersekolah, menyambung hidup, istrinya bekerja serabutan menjadi buruh cuci.
"Ya honor istri dipas-pasin, buat makan saja paling. Saya mah gak pengen buat beli macam-macam," imbuhnya.
Memang kalau dapat dana Balsem buat apa? "Ya kalau cukup buat modal usaha lah. Warung kecil gitu kan juga lumayan, nanti saya yang jagain. soalnya kan saya nggak bisa jalan jauh-jauh, sakit kaki saya," tuturnya.
Ketua RT tempat Sugianto tinggal, Nano Suhendi yang dikonfirmasi soal dana Balsem bagi warganya mengaku tak tahu menahu. Tidak pernah ada pendataan siapa saja warganya yang dapat dana itu.
"Tahu-tahu ada surat dari kantor pos, ada 4 keluarga yang dapat BLSM. Mungkin kantor pos yang data kali," jelas Nano.
Padahal lanjut Nano, 4 keluarga yang dapat BLSM itu sudah dikatakan relatif sejahtera, berbeda dengan Sugianto yang amat membutuhkan.
"Kan saya nggak tahu itu gimana datanya soal BLSM, tadi saya sudah bilang tahu-tahu dapat saja 4 warga saya," tutupnya.
(ndr/mad)











































