"Prediksi 10 persen (kenaikan penumpang). Sehari sekitar 500 ribu penumpang. Kalau ini jalan bisa tambah banyak lagi penumpangnya," kata Dirut Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) Ignatius Tri Handoyo kepada detikcom, Jumat (28/6/2013).
PT KCJ akan mendatangkan 180 unit KRL baru untuk mengantisipasi peningkatan penumpang ini. Handoyo mengatakan, pada Agustus 2013 sudah akan datang 30 unit kereta. Sebelum digunakan, kereta-kereta ini akan dirakit dan disertifikasi terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengurangi antrean penumpang, Tri menyarankan penumpang membeli tiket multitrip yang sudah diluncurkan beberapa hari lalu. Dengan tiket ini penumpang bisa langsung masuk ke dalam peron tanpa harus antre di loket untuk membeli tiket.
"Jadinya lebih cepat dan bisa langsung naik kereta," katanya.
Awalnya tarif KRL Commuter Line bersifat flat. Artinya penumpang yang menempuh melewati belasan stasiun tarifnya sama dengan penumpang KRL yang melewati beberapa stasiun. Misalnya penumpang Bogor arah Jakarta yang melewati 24 stasiun akan dikenakan tarif yang sama dengan penumpang Bogor arah Manggarai yang melewati 17 stasiun.
PT KCJ kemudian mengubah kebijakan ini dengan menerapkan tarif progresif yang memperhitungkan jumlah stasiun yang dilewati penumpang. Awalnya besaran tarif progresif ini adalah untuk lima stasiun pertama Rp 3.000 dan untuk tiga stasiun selanjutnya dikenakan tarif Rp 1.000. Namun tarif ini turun lagi karena mendapatkan Public Service Obligation (PSO) atau subsidi dari pemerintah.
Dengan adanya PSO tersebut tarif KRL Commuter Line mengalami penurunan. Untuk lima stasiun pertama yang awalnya Rp 3.000 menjadi Rp 2.000 dan untuk tiga stasiun selanjutnya yang awalnya Rp 1.000 menjadi Rp 500.
(nal/nwk)











































