Ketua RT setempat, Sintono mengatakan pasar yang terletak di lapangan sepak bola SDN 7 Gubug itu merupakan pasar sementara setelah sebelumnya, sekitar 3 tahun lalu pasar Gubug terbakar.
"Ini pasar sementara," tandas Sintono di lokasi kejadian, Gubug, Kabupaten Grobogan, Kamis (27/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sintono, ada unsur kesengajaan dalam kebakaran tersebut karena pukul 15.00 sore tadi ada selebaran yang mengatakan pedagang harus pindah tanggal 5 Juli.
"Api dari kios pakaian. Menurut pemikiran pedagang, ada unsur kesengajaan karena sore tadi jam 15.00 ada selebaran yang menginstruksikan tanggal 5 juli agar pindah," ujarnya.
Sementara itu salah satu saksi mata, Subri (35) menambahkan peristiwa terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu pasar dalam keadaan sepi dan hanya ada beberapa pedagang. Namun saat Subri berada di blok 2, tiba-tiba ia melihat api menggulung dari kios pakaian di blok 3.
"Api dari blok 3 muter-muter besar. Blok 3 itu pakaian-pakaian," tandas Subri.
Subri yang saat itu sedang bersama ketua RT setempat segera memberi tahu pedagang yang masih berada di sana. Kepanikan pun terjadi, pedagang sebisa mungkin menyelamatkan barang sebanyak-banyaknya.
"Saya berusaha bantu angkat-angkat dagangan. Saya lari melewati blok 2 dan 2. Posisi panik, ada yang sampai pingsan," tandasnya.
"Ini kayaknya di sengaja. Kalau konsleting enggak mungkin karena listriknya tidak ada," imbuh Subri.
Hal senada juga diungkapkan Sunardi, pemilik kios pakaian, menurutnya tidak mungkin jika tanpa di sengaja api bisa menyala karena saat kejadian lokasi masih dalam keadaan gerimis.
"Tadi habis hujan terus gerimis. Ini sepertinya disengaja," katanya.
Menanggapi hal itu, Kapolsek Gubug, AKP Wakijo membantah hal tersebut karena belum bisa dibuktikan. Pihaknya masih mengumpulkan saksi dan mengumpulkan keterangan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. Rencananya pihak kepolisian akan melakukan olah TKP besok pagi.
"Unsur kesengajaan belum ada. Itu nanti," pungkas Wakijo.
Setelah lebih dari empat jam, api berhasil dipadamkan. Namun 1.500 lapak dan kios di pasar tersebut sudah rata dengan tanah. Pedagang yang tidak berhasil menyelamatkan barang dangannya hanya bisa mengais sisa-sisa di puing-puing kios.
"Ini sudah habis semua (kios dan dagangan), padahal sudah mau Lebaran," ujar pemilik kios roti, Jumani sambil mengais-ngais puing-puing kiosnya.
(alg/rvk)











































