Pemerintah Sukses Geser Sentimen Negatif Kenaikan BBM

Pemerintah Sukses Geser Sentimen Negatif Kenaikan BBM

Rini Friastuti - detikNews
Kamis, 27 Jun 2013 18:27 WIB
Jakarta - Lembaga penelitian Prapancha Research menilai pemerintah Indonesia berhasil menggeser citra negatif terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebelum kenaikan itu diumumkan. Junior researcher Prapanca, Cindy Marta mengatakan, pemerintah malah menggeser sentiment negatif itu ke partai politik tertentu, seperti PKS.

"Dari 17 berita bersentimen negatif terhadap partai politik sebelum kenaikan BBM, 15 diantaranya tertuju pada PKS," kata Cindy saat memaparkan hasil penelitian tim Prapancha di Media Center Universitas Indonesia Depok, Kamis, (27/6/2013).

Menurut Cindy, sebelum BBM naik, pemerintah juga terlihat adem ayem dalam memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat. Hal itu untuk menghilangkan kesan bahwa kenaikan BBM itu murni dari pemerintah sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tercatat, hanya 58 pemberitaan yang memuat pernyataan pemerintah sepanjang isu itu bergulir. 19 diantaranya tertuju pada partai tertentu, yaitu 17 berita bermuatan negatif. Dari 17 berita negatif, PKS mendapat 15 berita.

"Ketertutupan pemerintah ini dalam upaya mendistribusikan tanggung jawab ke parlemen (partai)," ujarnya.

Directur Eksekutif Prapancha, Geger Riyanto menjelaskan, kesimpulan itu didapat dari hasil penelitian Prapancha terhadap isu kenaikan BBM sebelum dan sesudah pengumuman, dalam kurun 10-26 Juni 2013. Penelitian berdasarkan 271 pemberitaan di tiga media cetak dan 3.474.710 perbincangan tentang kenaikan harga BBM dan 105.668 percakapan tentang Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di media sosial twitter.

"Dari 271 pemberitaan di media konvensional, 48,71 persennya bersentiment negatif," katanya.

Di media sosial seperti twitter, kata Geger, PKS mendominasi perbincangan masyarakat tentang isu kenaikan BBM, yaitu 217.280 kali. Sementara Demokrat sebagai penggagas kebijakan hanya 41.178.

Hal itu mengindikasikan sikap mendua PKS pada saat itu malah menguntungkan pemerintah. Soalnya pemerintah mampu mengalihkan isu mendasar BBM pada konflik elit dan partai. "Khususnya PKS," sambungnya.

Geger mengatakan, dalam penelitiannya, mereka juga menemukan sentimen negatif itu dialihkan ke aksi demontrasi. Berbagai demostrasi yang dilakukan di berbagai daerah ternyata tidak menumbuhkan simpati publik.

"Hal itu terbukti dari tanggapan masyarakat dimedia sosial dan konvensional terhadap aksi demonstrasi," katanya.

Menurut penelitian Prapanca, daripada aksi demonstrasi, kicauan di media sosial lebih memberikan dampak yang luas. Apalagi dikicaukan oleh seleb twitter, seperti seorang tokoh atau orang yang dianggap punya pengalaman. "Itu terlihat dari bombastisnya jumlah pembicaraan di media sosial pada saat pengumuman BBM, 21 Juni 2013," kata Geger.

(rii/van)


Berita Terkait