"Bantuan itu diberikan pemerintah sebagai katup pengaman untuk warga miskin yang bisa langsung dinikmati melawan dampak kenaikan harga BBM yang tidak bisa lagi dihindari," ujar pengamat sosial Universitas Islam Negeri Mataram, Kadri di Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (25/6/2013).
Kadri menilai, selama ini subsidi BBM yang mencapai ratusan triliun rupiah itu tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati orang kaya. "Karena itu, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, kemudian mengalosikan dana cukup besar untuk kompensasi dalam bentuk BLSM merupakan langkah tepat," kata Kadri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BLSM menjadi katup pengamanan warga miskin, karena bisa dinikmati langsung oleh rakyat tidak mampu," tambahnya.
Β
Kadri juga mengusulkan agar sebagian dana kompensasi BBM diarahkan untuk membangun infrastruktur yang urgen dan pengerjaannya dilaksanakan dengan sistem padat karya.
"Cara itu akan memberikan efek multiplier yang lebih besar lagi," ucapnya.
"Saya yakin kalau program itu terwujud, maka kenaikan harga BBM tidak akan menyebabkan masyarakat menanggung beban, justru akan menguntungkan warga miskin," imbuhnya.
(tfq/mok)











































