Duh..Rumitnya Menyusun Kabinet
Kamis, 21 Okt 2004 10:41 WIB
Jakarta - Menyusun kabinet, tampaknya bukan hal yang mudah bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Molornya waktu pengumuman kabinet menjadi penanda itu. Penggantian calon menteri di detik-detik terakhir, makin membuktikan rumitnya penyusunan kabinet. Rencananya, pengumuman kabinet akan disampaikan Presiden SBY pukul 20.00 WIB, Rabu (20/10/2004) di Istana Merdeka. Namun, menjelang pukul 20.00 WIB, diumumkan pengumuman kabinet diundur sampai pukul 23.00 WIB. Namun, sampai pukul 23.00 WIB, belum tampak persiapan bahwa kabinet akan segera diumumkan. Akhirnya, kabinet diumumkan pada pukul 23.50 WIB, sepuluh menit menjelang deadline. Selepas magrib sampai menjelang pengumuman kabinet, suasana istana betul-betul tegang. Sejumlah calon menteri mendadak dipanggil. Presiden SBY dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla juga bolak-balik keluar ruangan. Wartawan yang berada di istana paham, tampaknya memang terjadi masalah dalam penyusunan kabinet. Informasi yang diterima detikcom, pada malam itu, sebenarnya yang membuat kisruh adalah pos-pos menteri di bidang ekonomi. Sampai pukul 23.00 WIB, masih ada empat posisi menteri ekonomi yang masih belum ditentukan siapa calonnya. Keempat pos menteri itu adalah menko perekonomian, menteri ESDM, menteri keuangan, dan menteri negara BUMN. Kisruhnya penentuan menteri-menteri ekonomi, kabarnya akibat protes M Jusuf Kalla. Dia tidak 'sreg' dengan tim ekonomi yang sudah disusun tim SBY. Karena itulah, Kalla dan SBY melakukan pertemuan empat mata untuk merombak susunan kabinet tersebut.Calon-calon menteri yang sudah dipanggil dan akan diberi pos tertentu dihubungi kembali untuk diubah posisinya. Misalnya Aburizal Bakrie, yang telah diplot menjadi menteri perekonomian, nyaris akan dicoret. Nama Aburizal nyaris dicoret, karena mendapat resistensi dari masyarakat, termasuk PKS. Akhirnya, Kalla menyodorkan nama baru, Purnomo Yusgiantoro. Lantas, dipanggillah Purnomo ke Istana. Pemanggilan Purnomo akan diplot menjadi menko perekonomian. Namun, Aburizal Bakrie menolak dibuang dan melakukan negosiasi. Akhirnya nama Aburizal tetap ditetapkan menjadi menko perekonomian. Hatta Rajasa yang sudah diplot menjadi menteri perhubungan, menurut informasi yang didapatkan detikcom, juga sempat akan diubah posisinya. Menjelang isya, Hatta sempat ditelepon tim SBY dan ditawari untuk pindah ke pos Menteri ESDM. Sementara posisi menteri perhubungan akan diberikan kepada calon menteri dari PKS. Tapi, Hatta menolak dan tetap memilih menjadi menteri perhubungan. Karena Hatta menolak, akhirnya Purnomo yang sudah terlanjur dipanggil ke istana akhirnya diposkan menjadi menteri ESDM. Pos menkeu juga mengakibatkan perdebatan yang panjang. Sebelumnya, menkeu akan dipegang oleh Rizal Ramli. Namun, karena ada penolakan dari sejumlah menteri, nama Rizal akhirnya dibuang di menit-menit terakhir. SBY dan Kalla lebih sreg mengambil Jusuf Anwar. Begitulah sebagian kisah ketegangan yang terjadi di Istana saat itu. Masih banyak sebetulnya, ketegangan lainnya. Termasuk mengenai pos menteri hukum dan HAM, menteri kesehatan, dan menteri sosial. Nama Hamid Awaluddin, yang sebelumnya sudah dicoret SBY di Cikeas muncul lagi sebagai kandidat kuat sebagai menteri hukum dan HAM. Hamid kabarnya diusulkan oleh Jusuf Kalla. Selama ini, hubungan keduanya memang cukup dekat. Posisi menteri sosial juga tiba-tiba diberikan kepada Bachtiar Chamsyah. Kabarnya, SBY-Kalla ingin merangkul politisi PPP yang berasal dari kalangan Parmusi. Sementara, menkes yang sebelumnya diisukan akan diisi Nafsiah Mboi, ternyata tiba-tiba diberikan kepada Siti Fadhilah Supari, yang direkomendasikan Muhammadiyah. Akhirnya, pukul 23.50 WIB, SBY menyampaikan susunan kabinetnya. Kalla yang saat itu berdiri di samping SBY, wajahnya tampak tetap tegang, meski beberapa kali menyunggingkan senyuman. Kabinet SBY yang diberi nama Kabinet Indonesia Bersatu itu berjumlah 36 orang, yang terdiri dari menteri, menteri negara, dan pejabat setingkat menteri. Pos ini jauh lebih gemuk dibanding kabinet Mega-Hamzah. Ryaas Rasyid, mantan menteri otonomi daerah, menilai gemuknya kabinet SBY-Kalla ini tidak mencerminkan spirit reformasi. "Salah satu spirit reformasi adalah efisiensi adiministrasi negara. Tapi, ternyata kabinet ini malah digemukkan," kata Ryaas. Dia menyoroti dihidupkannya kembali pos menteri pemuda dan olah raga (menpora) dan dipisahkannya menteri perdagangan dan perindustrian. "Zaman Gus Dur, pos menpora dihapus, agar masalah olahraga menjadi wewenang penuh KONI. Tapi, kok sekarang malah dihidupkan kembali," kata dia. Sementara pengamat politik Riswandha Immawan menilai, molornya pengumuman kabinet SBY-Kalla, karena SBY terjebak pada langkah yang ingin mengakomodasi semua pihak yang mendukungnya saat pemilihan presiden. Penggemukan kabinet juga didasari atas hal itu. "Akibatnya, figur profesional jadi terlupakan. Seharusnya, Pak SBY bisa bertindak tegas dalam memilih menteri-menterinya," kata dia.
(asy/)











































