"Sikap memaksa-maksa kami, mengompori dan menekan kami dan para menteri kami, untuk keluar atau mundur dari koalisi, adalah pengingkaran terhadap hak asasi dan hak berpolitik seseorang yang dijamin konstitusi," kata Sekrataris FPKS DPR, Abdul Hakim, kepada detikcom, Minggu (23/6/2013).
Perbedaan pandangan PKS dengan pemerintah terkait rencana kenaikan harga BBM dianggap hal yang wajar. "Negeri ini harus dipimpin oleh jiwa-jiwa yang merdeka, bukan jiwa dan mental pembebek ABS. Karenanya biarkan kami menentukan sikap politik kami. Tanpa harus dipaksa dan ditekan oleh siapapun," tutur Abdul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biarkan PKS menentukan sikap politiknya, mana yang terbaik untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Merdeka bangsaku, merdeka jiwaku, untuk Indonesia raya, meraih ridho-Nya," tandasnya.
(van/trw)











































