detikcom mencoba menelusuri jejak-jejak keberadaan Entong Gendut di kawasan Condet dan sekitarnya. Penelusuran berawal dari Kampung Gedong, Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Di kampung itu, detikcom bertemu dengan seorang tetua dari Kampung Gedong yang bernama Muhammad Samin (70). Samin kemudian menjelaskan bahwa Entong Gendut memang berasal dari Condet dan dikenal sebagai pembela rakyat yang diperlakukan tidak adil oleh Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Samin tak memiliki catatan apapun terkait kiprah Entong Gendut. Cerita Entong Gendut, dia dapatkan dari cerita lisan dari generasi orang tuanya. Samin kemudian merujuk detikcom ke beberapa orang, seperti pengurus koran kampung Gedong Tinggi, ketua RW Batu Ampar, hingga bertemulah dengan sesepuh Batu Ampar, Bang Geni (73).

Menurut Bang Geni, salah satu sesepuh di kelurahan Batu Ampar, di mana dulu rumah Entong Gendut berada, masa keemasan Entong Gendut adalah pada tahun 1916. Pada saat itu Entong Gendut diceritakan mulai melakukan perlawanan besar-besaran terhadap seorang tuan tanah.
Tuan tanah tersebut tinggal di daerah bernama Tanjung Oost alias Tanjung Timur yang menjadi Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Warga mengenal tempat tinggal tuan tanah tersebut dengan nama Gedong Tinggi.
Tak banyak keterangan yang dapat digali terkait hubungan antara Entong Gendut dan rumah yang saat ini menjadi asrama polisi itu.
Bang Geni menceritakan, sejak kecil Entong Gendut memang memiliki keistimewaan dibanding anak seumurannya. Entong selalu menantang teman-temannya untuk memukulnya sekadar membuktikan keistimewaan yang dia miliki.
"Pernah saya diceritakan Entong Gendut nyuruh beberapa temannya buat mukulin perut dia, ada lebih dari 10 orang yang mukul ternyata nggak ngaruh apa-apa, dia masih bediri tegak kayak nggak ada apa-apa," jelasnya.
Sama dengan Samin, Bang Geni hanya mendapatkan cerita lisan dari orang tuanya mengenai kiprah Entong Gendut itu. Bang Geni kemudian menunjukkan ada beberapa keturunannya di sekitar kampung itu. Disebutlah nama Tornadi. Beberapa penduduk ternyata juga mengiyakan bahwa ada kerabat Entong Gendut di kampung Batu Ampar itu.
"Saya bukan cucunya, bukan cucu kandungnya. Ada yang cucu kandungnya namanya Baba Taceh. Kebetulan dia lagi di sini. Jadinya saya sama dia itu beda bapak," kata Tornadi yang rumahnya tak jauh dari Bang Geni.
Menurut Tornadi, cucu yang disebutnya keturunan langsung Entong Gendut itu bekerja sebagai kuli bangunan, meski sudah berusia lanjut, 70 tahun. Nah, bagaimana penuturan Baba Taceh mengenai kakeknya itu?
(nwk/nrl)











































