"Iya tuh saya juga nggak tahu mulainya kapan, jadi gini sistemnya, 2 bus itu kan sama dengan 1 bus AC. Saya nggak tahu bangkai-bangkainya dikemanain pokoknya 2 bus tukar 1 bus AC," kata sopir Metro Miini 69 jurusan Blok M-Cileduk, Carolus, di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2013).
Menukar bus itu, menurut Carolus, dilakukan ke Dinas Perhubungan DKI. Menurutnya, peremajaan armada itu bakal membuat sopir lebih susah.
"Ya kalau menurut saya sih nyusahin sopir, (tarif bus) AC lebih mahal jadi penumpangnya lebih dikit nanti," keluhnya.
Keberatan juga dikatakan sopir Kopaja 57 jurusan Blok M-Kampung Rambutan, Uung. Yang jelas, setoran bus baru hasil peremajaan bakal naik.
"Kalau itu saya kurang setuju karena memberatkan sopir. Habis setorannya Rp 700 ribu/hari kalau AC gitu," kata Uung.
Sedangkan setoran harian untuk bus biasa, sekitar separuhnya, Rp 350 ribu. "Udah gitu kalau AC kan kasihan penumpangnya misal dia mau turun di mana, tapi mau gabung sama busway jadi nggak bisa turun," tuturnya.
Sementara petugas Dishub DKI yang ada di lokasi mengatakan banyak dari armada itu dikemudikan sopir tembak alias sopir cabutan. Mereka juga tak sampai masuk ke terminal.
"Itu biasanya sopir cabutan, bukan sopir resmi. Kalau yang resmi dia punya seragam. Kalau misal nggak pakai seragam biasanya ada KTA (Kartu Tanda Anggota)-nya ditempel di kaca depan," tutur petugas Dishub DKI itu.
Pihaknya tak tahu sopir cabutan itu menggantikan sopir resmi di lokasi mana saja. "Tapi yang jelas sih nggak berani masuk terminal. Jadi kalau di terminal rapi-rapi kaya gini, kalau di luar nggak tahu," jelas petugas Dishub itu.
(nwk/nrl)











































