Traffic Light yang Dihancurkan Mahasiswa Medan Nilainya Rp 420 Juta

Traffic Light yang Dihancurkan Mahasiswa Medan Nilainya Rp 420 Juta

Khairul Ikhwan - detikNews
Selasa, 18 Jun 2013 18:51 WIB
Traffic Light yang Dihancurkan Mahasiswa Medan Nilainya Rp 420 Juta
Kerusakan akibat demo mahasiswa di Medan kemarin (dok detikcom)
Medan - Dalam aksi demonya menentang kenaikan harga BBM, mahasiswa di Medan merusak berbagai sarana fasilitas umum, termasuk traffic light atau lampu pengatur lalu lintas. Kerusakan traffic light itu nilainya mencapai Rp 420 juta.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Medan, Suriono menyatakan, Selasa (18/7/2013), para mahasiswa yang berdemo itu merusak traffic light di tiga lokasi di Medan pada Senin (17/6/). Masing-masing simpang Jalan HM Yamin dan Jalan Soetomo, kemudian simpang Jalan Jamin Ginting dan Jalan Iskandar Muda, serta di simpang Jalan Jamin Ginting dan Jalan Mansyur.

"Sangat disayangkan terjadinya perusakan itu. Itu kan fasilitas umum, mengapa harus dirusak? Jika ingin menyampaikan aspirasi, ya silahkan saja, tetapi jangan merusak fasilitas umum," tukas Suriono kepada wartawan di Medan, Selasa sore.

Disebutkan Suriono, sarana traffic light yang dirusak itu mahal harganya. Perhitungan awal, barang yang rusak itu nilainya mencapai Rp 420 juta. Pihaknya akan melakukan perbaikan, tetapi secara bertahap.

"Karena traffic light dirusak, maka lalu lintas menjadi tidak tertib. Petugas tidak mungkin berjaga 24 jam di persimpangan," kata Suriono.

Bulan lalu, kata Suriono, juga terjadi perusakan traffic light saat terjadinya demonstrasi mahasiswa. Nilai kerusakannya mencapai Rp 600 juta. Perangkat sedemikian mahal sebentar saja dihancurkan mahasiswa, padahal harusnya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Perusakan traffic light itu dilakukan kelompok mahasiswa yang berdemo menentang kenaikan harga BBM. Masing-masing yang bergabung dengan mahasiswa Universitas HKBP Nommensen serta yang bergabung dengan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Selain merusak sarana umum, para mahasiswa Nommensen dan mahasiswa dari perguruan tinggi lain yang bergabung di sana, juga merusak restoran KFC, dan Hotel Grand Angkasa. Chief Security Hotel Grand Angkasa Edison Sinaga menyatakan, pihaknya mengalami kerugian Rp 150 juta akibat rusaknya kaca dan fasilitas lain di hotel.

"Para tamu ketakutan, termasuk di antaranya para siswa Sekolah Luar Biasa yang sedang menginap di sana. Ada 221 kamar yang sedang terisi, dan mereka semua sangat ketakutan," tukas Edison.

(rul/trw)


Berita Terkait