"Jokowi akan diposisikan sebagai wajah PDIP dalam konteks demokrasi elektoral, Jokowi kuat berhadapan dengan kompetitor lain," kata pengamat politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, kepada detikcom, Selasa (18/6/2013).
Kemampuan Jokowi mendongkrak popularitas partai dinilai Gun lebih mantap daripada Puan Maharani sekalipun. Namun Jokowi dinilai tak sekuat Puan ketika dihadapkan tugas konsolidasi partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang paling pas, menurut Gun, Puan-Jokowi berduet menjadi Ketum dan Sekjen PDIP seperti Mega-Tjahjo Kumolo saat ini.
"Misalnya Jokowi diposisikan menjadi ketua DPP atau posisi Tjahjo-nya sebagai pendamping Mega saat ini," katanya.
Tampuk kepemimpinan di PDIP memang dinilai Gun tak akan lepas dari trah Sukarno. Dia menduga saat ini Puan Maharani sedang digadang menjadi calon penerus Mega sebagai ketua umum PDIP.
"Saya melihat ada upaya memberikan satu empowerment kepada Puan dalam jabatan publik yang agak serius seperti di DPR. PDIP banyak SDM melimpah tapi secara historis memang tidak bisa dilebaskan Sukarnoisme diejawantahkan dalam dinasti politik yang dibangun," paparnya.
Karena itu, menurut Gun, Puan akan diberi 'kursus' ilmu politik dari para seniornya agar kelak Puan bisa menjabat ketua umum PDIP.
"Saya melihat akan ada coaching clinic partai selama beberapa tahun untuk memberikan endorsement kepada Puan," lanjutnya.
Lalu bagaimana peluang Prananda Prabowo, kakak Puan yang juga diisukan menjadi 'satria piningit' Mega? "Saya melihat posisi Puan sangat strategis, kedekatan Puan dengan struktur partai juga lebih banyak ketimbang Prananda," simpul Gun.
(van/nrl)











































